Blog

Kolam Renang Siharang Karang, Tempat Wisata Legendaris di Kota Padangsidimpuan

Pagi itu cukup sejuk, buatku malas beranjak dari tempat tidur, dan entah kenapa kasur itu pun seolah enggan berpisah dariku hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukkan jam setengah delapan, malam sebelumnya aku sudah sepakat untuk pergi berenang keesokan harinya bersama Rizki, adik bungsuku. Sabtu itu tepat lebaran hari kedua, tadinya aku sempat berpikir kalau kolam renang itu mungkin belum buka, tapi semangatku sepertinya telah mematahkan keraguanku tersebut. Setelah berkemas kami pun berangkat tanpa mandi dan gosok gigi dulu. Hhhehe

Di bawah langit kota Padangsidimpuan yang pagi itu tidak berawan, dua orang abang-beradik dengan menaiki sepeda motor supra x 125 sedang menuju objek wisata Kolam Renang Siharang-karang.  Adikku menarik gas dengan kecepatan sedang, jalanan cukup sepi, hanya sedikit kendaraan yang berlalu lalang, mungkin kebanyakan masih terlelap karena kebanyakan makan rendang dan kue lebaran kali ya. Hhhhehe

IMG_1981

IMG_1978

Tidak butuh waktu lama, hanya berselang 15 menit kami sudah sampai di tujuan. Kolam Renang Siharang Karang ini berlokasi di Kecamatan Hutaimbaru,  Desa/Kelurahan Sabungan Jae. Bisa dibilang kolam ini adalah kolam renang legendaris di Kota Padangsidimpuan. Pasalnya objek wisata ini adalah kolam renang pertama yang ada di kota salak tersebut, kolam ini sudah dibangun sejak aku SD sekitar 17 tahun lalu, udah lama juga aku hidup diatas tanah ini ya, hhehe

Kami masuk setelah membayar tiket seharga Rp 10.000/ orang, biasanya sih tidak sebesar itu, mungkin karena libur Hari Raya makanya tarifnya naik. Tiba di pintu masuk aku cukup terkejut melihat sebuah spanduk bertuliskan “Selamat Datang Di Kolam Renang Lubuk Raya”, Setahu aku tempat wisata ini bernama Kolam Renang  Siharang Karang, kenapa sekarang sudah berubah nama ya, terakhir aku datang kesini spanduk itu belum ada, tepatnya 2 tahun yang lalu. Saat itu pihak pengelola kolam renang ini sedang melakukan renovasi  kolam dengan menambah kolam baru dan beberapa fasilitas lainnya seperti, kios makanan, dan penambahan pondok-pondok peristirahatan. Dan sekarang pembenahan infrastruktur telah selesai, kini objek wisata ini semakin menarik dan siap bersaing dengan kolam renang lainnya yang ada di Padangsidimpuan. Mungkin karena telah memiliki “wajah baru” makanya kolam ini berganti nama, tapi tetap saja masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Kolam Renang Siharang Karang.

IMG_1985

IMG_1984

IMG_2023

IMG_1982

IMG_2024

Awalnya aku menduga kalau kami menjadi pengunjung pertama disini, tapi ternyata sudah ada beberapa orang yang datang duluan. Air di kolam ini cukup jernih dengan kedalaman maksimal sekitar 2 meter, yang tidak bisa berenang ga perlu sedih, ada yang dangkal juga kok, dan pihak pengelola juga menyediakan kolam khusus untuk anak-anak, buat umat muslim juga telah dibangun  mushola supaya sholatnya tidak ketinggalan. Meskipun masih sederhana, toilet, kamar ganti, dan tempat membilasnya juga ada. Jadi bagiku sudah lumayan baguslah.

Ada satu hal yang menjadi poin plus dan yang membuat kolam renang Siharang Karang ini berbeda dengan kolam renang kebanyakan. Yaitu selain lokasinya yang memang berada di daerah pegunungan yang sejuk dan asri, sumber air di kolam ini ternyata berasal dari mata air pegunungan langsung dan tanpa kaporit, jadi bisa dibayangkan betapa segarnya berenang disini. Makanya kolam renang ini menjadi destinasi wajib yang harus aku kunjungi saat Pulkam ke kota Padangsidimpuan. Tapi betapa pun segarnya berenang disini, tetap masih lebih segar kok saat aku menatap wajahmu…. iya kamu… Hhhehe

IMG_1987

IMG_1988

IMG_1989

IMG_1993

IMG_2017

IMG_2020

IMG_2016

IMG_2013
Mushola

IMG_2026

IMG_2017

IMG_2031

IMG_2028

IMG_2006

Setiap kali datang ke kolam renang Siharang Karang ini pikiranku selalu melayang pada saat pertama kali datang dulu. Pas SMP dulu tiap hari minggu kami satu kelas selalu kesini untuk mengikuti ekstrakurikuler berenang dari guru olahraga, kala itu badanku masih sangat kurus dan sama sekali tidak bisa berenang. Objek Wisata ini dulu begitu ramai setiap akhir pekan, maklum saja waktu itu tempat rekreasi masih sangat jarang disini, bahkan kolam ini menjadi satu-satunya kolam renang di kota ini, jadi otomatis tempat ini menjadi primadona belasan tahun lalu.

Waktu terasa begitu cepat berlalu, perlahan-lahan pengunjung tempat ini semakin berkurang seiring banyaknya dibangun tempat rekreasi di kota Padangsidimpuan, dulu bahkan aku sempat berpikir kalau tempat wisata ini akan ditutup. Tapi syukurnya pihak pengelola kolam renang Siharang Karang ini tidak patah semangat, perlahan mereka pun terus berbenah dan memperbaiki infrastruktur yang kurang. Kini hasilnya sudah mulai terlihat, lambat laun pengunjung pun semakin berdatangan. Sekarang aku juga sudah bisa berenang, ya walaupun ga pandai-pandai kali, tapi cukup bisalah menyelamatkanmu kalau sewaktu-waktu tenggelam di hati yang salah, eh… Hhhahaha

IMG_2045

IMG_2032

IMG_2042

IMG_2037
Air pembilasnya langsung dari pegunungan, udah pasti jernih dan segar

IMG_1986

Setelah hampir dua jam menikmati air kolam yang segar, pengunjung mulai ramai. Aku pun  keluar dari kolam dan segera membilas badan dengan air bersih, sebab aku tidak begitu percaya diri jika berenang diantara keramaian orang. Jadi aku lebih memilih menghentikan aktifitas berenangku dan beranjak pulang ke rumah.

Yokk teman, kalau berkunjung ke Padangsidimpuan jangan lupa kesini ya, kalo ga datang kelen rugilah pokoknya… Hhhehe

 

Nb : Semua foto menggunakan kamera canon eos m100

 

Iklan

Menikmati akhir pekan di Medan Perdana Stable, Wisata Memanah dan Berkuda pertama di Medan

“ Sesungguhnya Allah akan memasukkan tiga orang ke dalam jannah karena satu anak panah, orang yang membuatnya dengan tujuan baik, orang yang melemparkannya dan orang yang menyiapkannya. Hendaklah kalian memanah dan berkuda, sedangkan memanah lebih sukai daripada berkuda.” ( HR Tirmidzi )

“ Pada ubun-ubun kuda itu , telah ditetapkan kebaikan hingga hari kiamat.” ( HR Bukhari )

“ Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah ( HR Bukhari dan Muslim)

 

Menikmati Akhir Pekan di Medan Perdana Stable, Wisata Memanah dan Berkuda pertama di Medan – Ketiga hadis diatas adalah sabda dari Rasulullah Muhammad SAW tentang anjuran dan keutamaan dari berkuda, berenang, dan memanah. Dari ketiga olahraga tersebut, aku baru bisa berenang, ya meskipun tidak pandai-pandai kali, kalau nilai-nilai 7 masih dapatlah. Hhehhe

Aku pun penasaran untuk menjajal olahraga berkuda dan memanah yang sama sekali belum pernah aku coba sebelumnya. Aku sempat membaca beberapa literatur yang menyebutkan bahwa memanah dan berkuda juga memiliki banyak manfaat kesehatan, selain itu sebuah riwayat juga mengatakan bahwa di akhir zaman nanti akan terjadi perang, yang mana ketika hal itu terjadi seluruh tekhnologi akan musnah. Sehingga bukan tidak mungkin kita akan kembali berperang seperti zaman dahulu yang hanya menggunakan pedang, panah, dan mengendarai kuda. Wallahu  A’lam

Akhirnya lewat rekomendasi seorang teman yang bernama Khoza, sabtu itu aku dan seorang teman pun mengunjungi sebuah arena wisata memanah dan berkuda yang biasa ia kunjungi. Tadinya sih aku ingin datangnya pagi, karena cuaca  masih sangat sejuk dan pasti suasananya lebih asik buat main, tapi berhubung kami bangunnya kesiangan alhasil kami pun harus rela berpanas-panasan di bawah terik matahari yang entah kenapa begitu menyengat siang itu.

Sekitar pukul 2 siang, sampailah kami di Medan Perdana Stable, sebuah arena wisata memanah dan berkuda yang ternyata pertama dibuka di Medan. Tempat ini masih begitu sederhana, kurang instagramable lah kalo bahasa gaulnya, aku sih merasa maklum sebab objek wisata yang terletak di Jalan Anggrek Raya, kecamatan Medan Selayang kota Medan ini baru dibuka sekitar 2 bulan lalu. Jadi wajar saja masih banyak kekurangan disana-sini. Namun hal tersebut tidak menurutkan langkahku untuk mencoba kegiatan yang merupakan sunnah Nabi Muhammad SAW ini.

IMG_1970.jpg

Cuaca yang aku pikir bisa lebih teduh ternyata makin terik saja. Aku memilih mencoba memanah terlebih dahulu, biayanya Rp.25 ribu / jam. Instrukturnya pun memberikan sedikit arahan padaku sebelumnya, mulai dari cara memegang busur, cara memasukkan anak panah dan menariknya, sampai sikap tubuh saat memanah. Untuk tembakan pertamaku, ternyata tidak mengenai target sama sekali, malah mengenai tembok pembatas lapangan, syukur tidak sampai keluar arena atau bahkan sampai menelan korban jiwa. Hhhehe

Setelah melakukan berkali-kali percobaan, perlahan-lahan tembakanku semakin baik, tidak menabrak tembok pembatas lagi, semua anak panas sudah menancap di papan target, tapi sayangnya sampai sekarang panah cinta ini belum kunjung juga menancap di hatimu, hhehe

IMG_1828

IMG_1829

IMG_1851

 

IMG_1844

IMG_1865

Satu jam pun berlalu, setelah puas bermain panah-panahan, aku pun beralih ke wahana berkuda. Karena cuaca semakin panas, aku pun memilih berteduh dulu untuk sementara. Biasanya kalau lagi duduk santai seperti ini lebih enak kalau sambil ngopi atau ngeteh dan ditemani beberapa cemilan, tapi berhubung lagi bulan puasa terpaksa harus ikhlas hanya menelan ludah saja di tengah matahari yang semakin terik seolah tak peduli dengan tenggorokanku yang semakin kering. Dan entah kenapa siang itu sepertinya angin pun enggan untuk berhembus. Keringat pun semakin bercucuran membasahi kaosku yang tipis.

Tidak butuh waktu lama, sekira pukul setengah 4 sore panas pun mereda. Cuaca menjadi bersahabat untuk melakukan kegiatan berkuda. Di tempat seluas 1 hektar lebih ini terdapat 15 kuda, yang paling tua berumur 20 tahun dan yang paling bontot masih berusia 2 bulan. Beberapa kuda yang berada di kandang ini adalah titipan orang-orang, dan uniknya masing-masing kuda memiliki namanya sendiri, ada yang bernama Sultan, Royyan, Cahaya Fajar, Sarah, Putri, Poppy, dll. Aku tidak begitu hapal semuanya. Menurut pengakuan pihak pengelola, Sultan adalah kuda yang paling agresif dan susah dijinakkan sementara Putri adalah yang paling jinak dari semua kuda yang ada. Sementara Putri temanku di kantor tidak ada jinak-jinaknya. Hhhaha

IMG_1832IMG_1857

IMG_1852

IMG_1942

IMG_1943

Sebagai pemula, aku pun menunggangi Putri yang notabene paling jinak. Setelah mendapat sedikit arahan aku pun membawa Putri berjalan-jalan keliling arena. Tadinya sih aku cukup gugup, pasalnya ini adalah pertama kalinya aku menaiki kuda, sebelumnya sih aku udah pernah, tapi itu sudah sangat lama sekali, yaitu waktu aku kecil dulu. Rasa takut pun hinggap karena bisa saja aku jatuh trus ditendang dan diinjak. Tapi perlahan rasa takut dan gugup itu pun hilang, lama-kelamaan aku jadi semakin menikmati aktifitas yang ternyata cukup membakar kalori ini. Aku juga harus merogoh kocek sebesar Rp. 150 ribu setelah puas berkeliling selama satu jam.

Menurut penuturan Bang Didit selaku founder dari Medan Perdana Stable ini, awal mula dibentuknya kawasan wisata ini adalah hasil ngobrol-ngobrol santai dengan seorang teman anggota Brimob yang kebetulan hobi berkuda juga, karena basic Bang Didit adalah peternak dan juga demi melaksanakan sunnah Rasul maka dibukalah objek wisata ini untuk umum tepat pada tanggal 21 April 2018. Seluruh kuda disini dirawat dengan penuh perhatian, mulai dari kesehatan sampai makanannya. Setiap hari mereka diberi makan rumput, pakan ternak, dan tidak lupa obat cacingnya, bahkan kuda-kuda ini mampu menghabiskan 200-450 kg rumput setiap harinya. Maka tak heran jika badan mereka gemuk semua. Pria berjenggot tipis itu juga mengatakan kalau salah satu kuda disini dipakai untuk keperluan film Naga Bonar yang dibintangi oleh Gading Marten nanti. Wahh sudah jadi artis saja mereka. Hhhehe

Saking asyiknya bercerita, tak terasa waktu sudah semakin sore, sebentar lagi waktunya berbuka puasa. Aku pun segera pamit dengan Bang Didit dan berjanji akan datang lagi, bahkan aku berencana untuk mengambil paket privat sampai mahir berkudanya. Ya hitung-hitung olahraga sambil cari pahala. Hhehe

IMG_1892IMG_1890

IMG_1902

IMG_1899

IMG_1917

IMG_1912

IMG_1906

IMG_1895

IMG_1955

IMG_1958

IMG_1929

IMG_1935

IMG_1967
Foto kiri ke kanan : Bang Didit ( Founder ), Aku, Sultan, Mas Anto ( Coach)

Sesampainya di kosan baru mulai terasa deh efek sampingnya. Kedua bahu pegal, jari tangan sedikit lecet, dan yang paling parah adalah area selangkanganku yang sakit abis satu jam berkeliling naik kuda. Tapi ga masalah yang penting aku puas dan senang. Hhhaha

Tunggu apalagi teman-teman, yok kita sama-sama belajar berkuda dan memanahnya. Aku tunggu kelen yaaa !!!!! 😀

Nb : Seluruh foto menggunakan kamera canon eos m100

 

3 Tempat Wisata Bersejarah di Aceh yang Wajib Kamu Kunjungi

3 Tempat Wisata Bersejarah di Aceh yang wajib kamu kunjungiBicara tentang destinasi liburan, masing-masing tempat wisata tentu memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri yang mampu memikat para wisatawan untuk datang berkunjung. Ada yang terkenal dengan panorama alamnya yang memanjakan mata, ada yang sukses menarik para pelancong dengan kulinernya yang lezat dan menggoyang lidah, ada juga yang mampu memancing rasa penasaran orang-orang dengan cerita sejarah yang terkandung di dalamnya.

Salah satunya adalah Nanggroe Aceh Darussalam. Kita semua pasti setuju bahwa Aceh menyimpan sejuta pesona alam yang aduhai, kemudian sebagian besar dari kita tentu sudah mengetahui bahwa provinsi yang berada di ujung utara Pulau Sumatera ini juga pernah dirundung duka 14 tahun yang lalu. Tepat 26 Desember 2004 silam sebuah gelombang tsunami sekitar 9,3 skala Richter telah mampu memporak-porandakan seluruh Bumi Serambi Mekkah dan ratusan ribu korban pun meninggal dan kehilangan sanak saudaranya dalam tragedi memilukan tersebut.

Musibah ini tentu meninggalkan luka yang mendalam bagi kita dan terutama bagi warga Aceh yang telah kehilangan harta benda dan keluarga  saat bencana yang maha dahsyat tersebut. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kejadian yang mengerikan itu telah menyisakan peninggalan-peninggalan yang kini dijadikan pemerintah setempat sebagai objek wisata bersejarah bagi para wisatawan. Berikut adalah 3 tempat wisata bersejarah yang wajib dikunjungi di Aceh :

  1. Masjid Raya Baiturrahman

Kita semua pasti setuju jika gelombang tsunami yang menghantam Aceh 2014 silam begitu besar dan ganas. Gedung-gedung roboh, rumah warga hancur berantakan, pepohonan dan kendaraan yang ada di jalan semuanya ikut terseret tsunami yang sangat mengerikan itu. Namun kenyataannya hal tersebut tidak mampu sedikit pun merusak beberapa Masjid yang ada disana, salah satunya adalah Masjid Raya Baiturrahman, sehingga banyak warga yang menjadikan Rumah Allah yang pertama kali dibangun sekitar tahun1873 oleh Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam ini sebagai tempat berlindung saat peristiwa kelam tersebut. Umat muslim pun percaya bahwa ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah.

14 tahun sudah berlalu, kini Masjid Baiturrahman telah berubah menjadi salah satu tempat wisata bersejarah yang ada di Banda Aceh. Banyak wisatawan yang datang berkunjung setiap harinya, baik lokal maupun mancanegara. Bangunan ini pun semakin dipercantik di setiap sudutnya dengan penambahan infrastruktur dan arsitektur yang indah, sekarang pengunjung sudah difasilitasi basement untuk parkiran lengkap dengan eskalatornya, hamparan rumput yang dulu menutupi halaman Masjid sudah diganti dengan lantai marmer dan dipasang 12 payung elektrik yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelancong karena kemiripannya dengan Masjid Nabawi yang ada di Madinah. Menurut beberapa sumber nantinya selain sebagai tempat ibadah dan tempat wisata, Masjid Baiturrhaman akan dijadikan sebagai pusat kerkembangan dan peradaban Agama Islam di Asia Tenggara. Semakin bangga sebagai seorang Muslim.

IMG_1735 copy

IMG_1730

IMG_1444

IMG_1440

IMG_1460

IMG_1459

IMG_1457

IMG_1452

IMG_1463

IMG_1466

IMG_1423

  1. Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh juga merupakan destinasi wajib yang harus dikunjungi di Banda Aceh. Letaknya masih di pusat kota Banda Aceh dan jaraknya juga masih berdekatan dengan Masjid Raya Baiturrahman. Monumen simbolis ini dibangun  untuk mengenang tragedi tsunami yang memakan banyak korban. Selain itu museum yang diarsiteki oleh Bapak Ridwan Kamil ini juga digunakan sebagai pusat pendidikan dan perlindungan darurat seandainya tsunami terjadi lagi.

Tidak perlu membayar tiket untuk masuk ke dalam Museum yang dibangun tahun 2009 ini, kita hanya perlu membayar uang parkir saja. Bangunan yang terdiri dari 4 lantai ini memiliki desain yang sangat unik, pengunjung akan masuk melalui sebuah lorong sempit dan gelap yang diapit dua buah dinding air yang tinggi, suasana mencekam begitu terasa saat melewati lorong ini, suara takbir, teriakan para korban, dan suara ombak begitu nyata terasa seolah kita dibawa kembali pada suasana kepanikan saat tsunami terjadi.

Selain itu terdapat sebuah ruangan khusus yang bernama Ruang Sumur Doa, masuk ke dalamnya kita akan mendengar lantunan ayat-ayat suci Alquran, kemudian pada  dindingnya diukir nama-nama ratusan ribu korban yang meninggal saat tragedi memilukan tersebut. Suasana di dalam ruangan berbentuk lingkaran ini juga membawa diri kembali mengingat kematian yang bisa datang kapan saja dan dimana saja.

Di tengah bangunan seluas 2.500 m² ada sebuah kolam ikan dan diatasnya dibuat sebuah jembatan penghubung. Di lantai 2 diukir sebuah relief geografi Aceh di dindingnya yang tampak melengkung dari luar, disini juga disediakan sebuah ruangan audiovisual bagi pengunjung yang ingin menonton video kompilasi kejadian-kejadian saat tsunami terjadi. Kemudian terdapat juga sebuah ruangan tempat menyimpan memorabilia dan miniatur-miniatur bangunan dan situasi yang menggambarkan keadaan Aceh yang telah porak-poranda. Lalu hal lainnya yang menjadi magnet tersendiri adalah Museum Aceh Tsunami ini juga menampilkan pameran yang berisi foto dan informasi-informasi terkait proses terjadinya tsunami, kisah para korban, dan masih banyak lainnya. Maka dari itu, berkunjung ke Museum Aceh Tsunami adalah pilihan destinasi wisata yang tepat untuk menambah wawasan bagi anak-anak, remaja, atau dewasa sekali pun.

IMG_1596

IMG_1599

IMG_1604

IMG_1714

IMG_1613

IMG_1627

IMG_1616

IMG_1641

IMG_1690

IMG_1669

IMG_1673

IMG_1672

IMG_1708

Baca juga : Petualangan Sehari Mengelilingi 3 Tempat Wisata Pantai di Aceh

Baca juga : Jelajah Takengon, Negeri Diatas Awan Di Kabupaten Aceh Tengah

  1. Museum Kapal PLTD Apung

Satu lagi tempat wisata bersejarah yang harus kamu kunjungi saat berlibur di Banda Aceh, yaitu Museum PLTD Apung. Kita semua pasti sepakat jika tsunami yang menerjang Aceh begitu besar dan Kapal PLTD Apung adalah saksi bisu bagaimana dahsyatnya gulungan ombak yang terjadi 14 tahun silam itu.

Sesuai dengan namanya kapal PLTD Apung adalah sebuah kapal yang berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga diesel. Kapal milik PLN ini telah berlayar ke berbagai tempat di Indonesia, pertama kali digunakan di Pontianak pada tahun 1997. Kapal yang mampu memasok listrik sebesar 10,5 mW ini telah menorehkan berbagai prestasi seperti mengatasi krisis kelistrikan di Pontiakan pada tahun 1997, mengatasi krisis listrik di Bali akibat gangguan kabel bawah laut pada tahun 1999, berhasil mengatasi krisis kelistrikan di Madura pada tahun 2000, dan Pada tahun 2003 berlabuh di Tanah Rencong sebagai pemasok aliran listrik.

Awalnya keberadaan Kapal PLTD Apung ini di banda Aceh adalah sebagai antisipasi gangguan listrik yang terjadi akibat seringnya kontak senjata antara pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka ( GAM ) yang dulu sempat memanas. Konflik ini mengakibatkan robohnya banyak pembangkit listrik dari PLN yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab sehingga menyebabkan pasokan listrik di Aceh terganggu.

Pada saat tsunami tahun 2004 lalu, tidak ada yang menyangka bahwa gelombang yang tinggi mampu menyeret kapal seberat 2.600 ton ini sejauh 5 km ke pusat kota Banda Aceh. Menurut saksi mata, kapal PLTD Apung ini jga sempat dijadikan sebagai tempat berlindung saat gelombang kedua datang, banyak yang mencoba naik dan masuk ke dalam kapal, tentu ada yang yang selamat meski lebih banyak yang meregang nyawa.

Kini Kapal PLTD Apung ini dijadikan sebagai situs bersejarah yang ada di Banda Aceh. Tidak berbeda jauh dengan Museum Tsunami Aceh, di dalam museum yang terletak di desa Punge Blangcut ini kita bisa melihat pameran yang berisi informasi-informasi terkait kapal PLTD Apung, foto-foto, dan kesaksian para korban yang selamat pada peristiwa yang mengerikan tersebut. Menurut warga sekitar, di bawah kapal ini masih tersimpan banyak mayat para korban yang ikut terseret. Wallahu A’lam

IMG_1493

IMG_1496

IMG_1587 copy

IMG_1510

IMG_1577

IMG_1539

IMG_1571

IMG_1554

IMG_1548

IMG_1556

 

Jadi gimana ? Tertarik berwisata ke  tempat-tempat bersejarah di Banda Aceh ini ?  Atau kalian punya tempat wisata bersejarah juga di daerahnya masing-masing, boleh donk di share kesini.. Hhhehe

Nb : Semua foto menggunakan kamera canon eos m100

Amplop Lebaran, Masihkah Kurindukan ?

Gimana puasa kalian ? sudah ada yang bolong belum ? Semoga masih lancar aja ya. Hhhehe

Tak terasa kita sudah memasuki pertengahan Ramadhan. Sudah 11 hari kita menjalani ibadah puasa, menahan lapar dan dahaga demi menjalankan kewajiban sebagai umat Islam. Dalam kurun waktu beberapa minggu lagi kita pun akan menyongsong Hari Raya Idul Fitri, hari dimana seluruh umat islam akan kembali suci seperti saat bayi baru lahir.

Hari Raya Idul Fitri yang insha allah bertepatan akan jatuh pada tanggal 15 Juni nanti tentu sangat dinantikan oleh seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Pasalnya hari kemenangan ini merupakan sebuah hadiah yang diberikan oleh Allah kepadanya hambanya yang telah bersusah payah menahan hawa nafsunya, menahan lapar dan haus dari pagi hingga petang, menepis rasa malas untuk melaksanakan Shalat Tarawih, melantunkan aya-ayat suci suci Alquran meskipun rasa kantuk terus menyerang, dan berusaha untuk terus bersedekah meskipun kantong sendiri juga sedang susah. Semua itu kita lakukan agar lebih dekat dengan Allah sebagai  Sang Pencipta, sebagai upaya memohon pengampunan atas dosa-dosa di masa lalu, dan juga sebagai investasi amal kita di akhirat kelak, sebab di Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini semua amalan akan dilipatgandakan pahalanya.

Momen Lebaran juga erat kaitannya dengan fenomena mudik ke kampung halaman. Mudik atau lebih dikenal dengan  Pulkam ( Pulang Kampung ) menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Sebagai bangsa dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, tentu euforia mudik akan lebih terasa disini. Kesempatan yang hanya datang sekali setahun ini dimanfaatkan orang-orang untuk berkumpul dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya di Kampung Halaman.

Tak terkecuali aku. Sebagai seorang perantau yang jauh dari orangtua tentu aku sangat menantikan saat-saat seperti ini. Ketika lebaran tiba, seluruh sanak keluarga akan berkumpul  di satu tempat, yaitu kediaman Oppung ( kakek/nenek dalam bahasa batak). Rumah Oppung yang tadinya kosong pun mendadak berubah menjadi sangat riuh. Semua saling bercengkerama satu sama lain, Bapak-Bapak  sibuk membahas keluarganya masing-masing, Ibu-Ibu sibuk memasak makan di dapur, dan  yang anak-anak tak hentinya berlari kesana-kemari, canda dan tawa yang hadir pun menambah kehangatan suasana, tidak ketinggalan seluruh kasur yang ada di kamar tidur akan dipindahkan ke Ruang Tamu agar semuanya bisa tidur bersama. Setelah Shalat Ied, semua anak-anak akan berbondong-bondong meminta THR atau Amplop Lebaran kepada yang tua. Itu adalah momen – momen yang sangat aku tunggu kala Hari Raya tiba.

Amplop Lebaran 2018_180210_0005

 

Tapi itu dulu…..

Menurutku Lebaranku tahun ini tidak akan lagi seindah tahun-tahun sebelumnya. Perlahan tapi pasti, orang-orang yang sangat berarti bagiku telah menghadap Sang Khalik satu per satu. Diawali oleh kepergian Kakekku sekitar 13 tahun lalu, disusul meninggalnya Nenekku 10 tahun kemudian, dan yang terakhir aku pun harus menerima kenyataan bahwa Allah juga telah memanggil Ibuku 7 bulan yang lalu setelah kurang lebih setahun berjuang melawan kanker payudara yang diidapnya.

Biasanya orang yang paling sibuk dan heboh saat Puasa dan Hari Raya adalah Ibuku. Dengan penuh keikhlasan dia bangun lebih awal untuk menyiapkan hidangan sahur kami sekeluarga dan tak lupa juga membangunkan kami untuk meikmati santap sahur bersama. Sorenya pulang dari kantor ia juga harus menyiapkan menu berbuka kami meski lelah masih belum hilang dari badannya. Mendekati Lebaran, Ibuku juga semakin sibuk dengan aktifitas membuat kue dan juga membeli baju Lebaran kami satu per satu, baik itu Ayahku, Aku, dan juga Adik-adikku. Saat Takbir telah berkumandang dari penjuru mesjid, Malaikat tak bersayap ini pun masih sibuk di dapur untuk memasak Rendang dan Sop untuk hidangan kami sehabis Sholat Ied nanti.

Hidup memang penuh degan teka-teki yang tidak bisa kita prediksi. Ramadhan dan Lebaran tahun lalu aku lewati di Rumah Sakit untuk menemani Ibuku menjalani serangkaian pengobatan kankernya, mulai dari Kemoterapi hingga Radiasi dengan harapan Ibuku segera sembuh dan kami bisa berkumpul bersama lagi di Lebaran berikutnya. Tapi ternyata Allah berkehendak yang lain, Dia pun memanggil Ibuku kembali padaNya. Aku pun harus kuat dan harus mulai terbiasa melewati Ramadhan dan Lebaran tanpa seorang Ibu yang selalu berdiri di depan rumah dan menyambutku pulang dengan senyumnya yang penuh ketulusan.

Jadi Amplop Lebaran bukan lagi menjadi sesuatu yang kutunggu, tapi hangatnya dekapan seorang Ibu jadi satu-satunya yang akan selalu kurindu.

IMG_0781

Kelak, bukan lagi harta melimpah yang kau impikan, bukan lagi liburan yang kau nantikan, tapi momen kebersamaan  dan kehangatan sebuah keluarga yang pasti akan kau rindukan.

I Miss You Mak. 😦

Petualangan Sehari Mengelilingi 3 Tempat Wisata Pantai di Aceh

Petualangan Sehari Mengelilingi 3 Tempat Wisata Pantai di Aceh- Jumat, 30 Maret 2018, petualangan masih terus berlanjut. Setelah puas keliling Takengon, Aku dan Rama menuju Banda Aceh. Kami pun harus menempuh waktu 8 jam lagi menggunakan sepeda motor untuk sampai kesana. Siang itu meski cuaca di Takengon sangat cerah tapi hawanya begitu sejuk sehingga membuatku sedikit enggan meninggalkan kota ini. Namun apa mau dikata, rasa cintaku pada Tanah Gayo ini dikalahkan oleh rasa penasaranku pada Ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersebut.

Tiga jam berlalu, sekitar pukul 6 sore sampailah kami di Simpang Matang Glumpang, Kabupaten Bireuen. Aku dan Rama istirahat sejenak di kosnya sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah puas beristirahat dan meregangkan beberapa otot yang kaku akibat kelamaan duduk diatas motor kami pun beranjak ke Banda Aceh. Sebelum itu aku tak melewatkan mencicipi kuliner khas Aceh, yaitu sate matang. Aku baru tahu kalau sate matang itu bukan asli dari Banda Aceh tapi berasal dari daerah Matang ini. Makanya dinamakan sate matang, padahal sebelumnya aku pikir kalau nama “matang” itu diberikan karena satenya memang matang. Hhhehe

Aku dan Rama berboncengan menembus malam yang gelap. Di awal perjalanan kami disambut oleh rintik-rintik hujan, kami pun berhenti sebentar untuk memakai mantel, dan sialnya  ternyata mantelnya cuma ada satu, hingga akhirnya untuk menghemat waktu kami harus tetap melanjutkan perjalanan dan terpaksa hanya Rama yang memakai pakaian pelindung tersebut karena kebetulan dia yang mengemudikan motor dan aku harus rela duduk manis di belakang hanya mengenakan sebuah sweater tipis dengan harapan hujan tidak semakin deras dan segera berhenti. Syukurlah sepertinya Allah mendengar doaku tersebut, tak lama berselang rintik hujan tak ada lagi, yang ada hanya sebuah kenangan yang membekas di hati. Bah jadi galau pulak. Hhhehe

Malam semakin larut, rasa kantuk pun semakin tak terbendung. Jarum jam menunjukkan angka 12 malam, Aku dan Rama tiba di Kota Sigli dan akhirnya tidur di sebuah POM Bensin untuk mengirit biaya. Hhehe

Tadinya aku berpikir hanya kami berdua yang melepas rasa kantuk di mushola itu, ternyata cukup banyak juga yang memilih tidur disini, setelah kuperhatikan mayoritas adalah musafir, supir truk, dan penjaga Warung Makanan di SPBU tersebut. Malam pun berlalu dengan diiringi harapanku agar besok pagi tenaga kembali terisi, badan yang bugar, dan cuaca yang cerah.

IMG_1060

IMG_1061

“ Bangun bang, udah Subuh !!!!!, “ teriak seorang pria dengan suara yang menggelegar di seluruh ruangan mushola, seketika memecah keheningan dan membuyarkan mimpi kami semua. Dengan setengah sadar aku melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 5 pagi, seluruh daya dan upaya pun kukerahkan demi melawan kantuk yang masih belum hilang dan segera mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Wajar saja bila ada Hadis yang menjelaskan bahwa manusia paling kaya yang akan memiliki dunia dan seisinya adalah dia yang bersusah payah bangun pagi buta untuk Sholat Subuh berjamaah di Masjid. Salut untuk siapapun yang sudah mampu melawan kantuknya dan meringankan langkahnya untuk Subuh berjamaah di Masjid. 🙂

Sehabis sholat, Aku dan Rama beranjak dar Sigli menuju Banda Aceh. Alhamdulillah pagi itu cuaca cukup cerah tidak seperti hari-hari sebelumnya, hamparan sawah yang hijau dan pepohan yang rindang seolah menyapa dan menyambut dengan riang kedatangan kami. Dan seperti biasa jalan lintas menuju Aceh cukup sepi, padahal saat itu adalah akhir pekan. Apa mungkin warga Aceh lebih menyukai liburan di dalam kota daripada bepergian ke luar kota ya ?

Sekitar pukul 8 pagi tibalah kami di Bumi Serambi Mekkah kota Banda Aceh. Berbeda dengan di Medan yang penuh sesak, disini lalu lintanya cukup lengang, tidak ada suara-suara klakson yang sering terdengar saat kemacetan.  Kami pun segera mencari hotel untuk melepas lelah dan mandi sepuas-puasnya karena badan sudah sangat lengket oleh keringat dan debu-debu jalanan, aromanya pun entah udah cemana, nano-nano lah pokoknya, Hhehe

IMG_1069

IMG_1068.JPG

IMG_1346.JPG

IMG_1348.JPG

Usai mandi badan pun kembali segar dan wajah kembali cerah. Aku pun menyusun serangkain destinasi yang akan dikunjungi hari itu, lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Pasir Putih. Kalau aku lihat foto-fotonya di internet, Tempat Wisata yang terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar ini memang sangat bagus, tapi terkadang foto bisa saja menipu, bisa saja fotonya di edit, air yang tadinya coklat bisa saja berubah jadi biru, jerawat pun bisa hilang  berkat kecanggihan aplikasi Photo Editing yang sudah banyak tersedia di App Store maupun Google Play. Hhhehe

Setelah menempuh jarak kurang lebih 40 km dari kota Banda Aceh, sampailah kami di Pantai Pasir Putih. Ternyata foto-foto yang lihat di internet sebelumnya tidak berbohong, karena kenyataannya objek wisata yang bersebelahan dengan Bukit Lamreh ini memiliki segudang pesona. Karakteristik pantainya yang putih dan halus dan air lautnya yang biru akan semakin bercahaya diterpa sinar matahari, kemudian yang membuatnya berbeda dengan pantai-pantai lain yang ada di Aceh adalah pemandangan pepohonan yang berjejer di bibir pantai yang diselingi akar-akar bakau yang tumbuh menjulang ke permukaan. Disini juga sudah dibangun banyak pondok untuk para wisatawan yang ingin bersantai dan menyantap menu makanan yang ada sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan suara deburan ombak yang menentramkan hati. Tidak heran kalau aku saat itu melihat ada sepasang calon pengantin yang melakukan sesi pemotretan foto pra wedding disini, sebab spot-spot untuk berswafoto ini sangat fotogenik.

IMG_1083.JPG

IMG_1084.JPG

IMG_1101

IMG_1103.JPG

IMG_1126

IMG_1110.JPG

IMG_1114.JPG

IMG_1131.JPG

IMG_1142.JPG

IMG_1214.JPG

Kuliner khas dar Pantai Pasir Putih ini adalah ikan bakarnya, tapi berhubung uang pas-pasan kami pun hanya memesan Indomie kuah pake nasi dan minumnya tidak lain dan tidak bukan adalah minuman sejuta umat, yaitu teh manis dingin. Jauh-jauh dari Medan makannya indomie lagi, namanya juga anak kos ya kan. Hhehe

Karna terlalu asyik menikmati suasana yang begitu menenangkan, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Langit yang tadinya cerah perlahan mulai mendung, Aku dan Rama segera beralih menuju destinasi selanjutnya. Tidak lupa kami pun membayar makanan dan minuman tadi, totalnya semua adalah Rp.50.000, syukurlah tadi cuma pesan indomi ama teh manis, bayangkan kalau tadi pesannya ikan bakar, tekor bandarlah. Hhehe

IMG_1122.JPG

Pantai Pasir Putih selesai. Selanjutnya kami menuju objek wisata Bukit Lamreh yang letaknya tidak jauh dari Pantai Pasir Putih, mungkin hanya sekitar 1 km saja. Akses jalannya lumayan sulit karena banyak batuan yang terjal sehingga cukup sulit bagi motor matik kami untuk melewatinya. Berbeda dengan Pantai Pasir Putih, di kawasan wisata yang masih berada di Kecamatan Masjid Raya ini selain membayar tiket masuk seharga Rp.10.000/motor, kami juga harus membayar parkir seharga Rp.10.000/motor juga, hal ini cukup membuatku kesal. Tapi syukurlah rasa kesalku itu cepat sirna setelah aku disuguhi kecantikan alam begitu mempesona. Dari atas perbukitan yang tersusun rapi oleh batuan karst ini kami bisa melihat dengan leluasa lautan yang membentang luas, hamparan rumput hijau yang menyelimuti, dan tidak lupa semilir angin yang membelai dengan lembutnya seolah mengajak kami untuk betah berlama-lama.

IMG_1262.JPG

IMG_1302.JPG

IMG_1284.JPG

IMG_1298.JPG

IMG_1303

IMG_1267.JPG

IMG_1319

IMG_1333.JPG

IMG_1332

IMG_1329

IMG_1344

IMG_1345.JPG

Disini terdapat sebuah pondok yang menjual air mineral, minuman ringan, dan beberapa cemilan. Setelah aku perhatikan ternyata hanya segelintir wisatawan saja yang datang berkunjung ke Bukit Lamreh ini, hal ini cukup mengejutkannku mengingat dengan segala keindahan yang dimilikinya harusnya mampu memikat hati banyak orang, dan aku pikir mungkin orang-orang malas datang karena memang kondisi jalannya yang masih belum layak. Jadi aku sangat menaruh harapan kepada pemerintah setempat agar bisa memberikan perhatian kepada objek wisata yang satu ini. Jangan sampai potensi wisata yang menurutku sangat besar ini disia-siakan begitu saja.

Hari semakin sore, jarum jam sudah berada di angka 4. Aku dan Rama beralih ke destinasi terakhir kami hari itu, yaitu Pantai Lampuuk. Lokasinya sekitar 15 km dari barat kota Banda Aceh, jadi karena kami beranjak dari Bukit Lamreh, maka kami pun harus menempuh jarak 55 km lagi agar sampai ke Pantai Lampuuk. Harga tiket masuk ke objek wisata ini juga cukup murah, yaitu Rp.5000/orang. Pantai yang berada di Kecamatan Lhoknga ini merupakan saksi bisu kedahsyatan tsunami yang melanda Aceh 2004 silam, gelombang besar telah banyak memakan korban, merusak infrastruktur dan pepohonan pinus yang dulunya tumbuh rindang disini. Sehingga pasca Tsunami banyak orang yang trauma untuk datang berkunjung kesini.

Namun setelah banyaknya pembenahan disana-sini, akses jalan yang dipermudah, Pantai Lampuuk  sepertinya kembali menjadi primadona bagi para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Hal ini dibuktikan dengan ramainya pengunjung yang aku lihat sedang menikmati liburannya sore itu, ada yang datang dengan keluarganya, dengan pasangannya, atau dengan teman-temannya. Beberapa ada yang bermain Banana Boat, berjalan-jalan, ada juga yang hanya duduk santai dipinggir pantai atau pondok sambil makan atau minum. Tahun 2015 yang lalu pertama kalinya aku bertandang ke Tanah Rencong, saat itu aku langsung terpesona oleh keanggunan dan keelokan dari sinar yang terpancar dari matahari yang akan tenggelam di pantai yang memiliki omabak yang bersahabat bagi para peselancar ini. Hal ini yang membuat aku rindu dan ingin kembali menyaksikan momen luar biasa tersebut. Sayangnya, alam tampaknya belum berpihak padaku, langit tampaknya cukup mendung sehingga menutupi cahaya senja yang ingin berhamburan. Aku pun hanya bisa pasrah dan tetap menikmati momen pergantian siangmenuju malam tersebut.

IMG_1356.JPG

IMG_1366.JPG

IMG_1379.JPG

IMG_1369.JPG

IMG_1365.JPG

IMG_1387.JPG

IMG_1390.JPG

IMG_1404.JPG

Alam memang penuh dengan teka teki, cuaca juga tidak bisa dipredikasi. Namanya juga jalan-jalan, kadang penuh dengan kejadian yang mengejutkan. Hhehe

Maghrib pun tiba. Kami pun lekas kembali ke hotel untuk istirahat setelah berkelana seharian.

Baca juga : Jelajah Takengon, Negeri diatas Awan di Kabupaten Aceh tengah

Nb : Semua foto menggunakan kamera canon eos m100.

Blogger Medan ketemu MPR RI. Mau Demo ya ?

Suasana politik dalam negeri sepertinya kian memanas. Hal ini sejalan dengan semakin dekatnya kita dengan Pemilihan Umum, baik Pilpres 2019 maupun Pilkada. Masyarakat tentu memiliki pilihannya sendiri, namun sayangnya masih banyak dari kita yang belum dewasa menyikapi situasi tersebut. Pesta demokrasi yang harusnya menjadi ajang pemersatu bangsa seolah menjelma menjadi pemicu terpecah belahnya kita. Keadaan ini diperparah dengan maraknya hoax yang bertebaran di media-media online.

Untuk mengatasi agar konflik ini tidak semakin melebar, akhirnya MPR RI pun mengambil sikap. Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 20 April 2018 mereka mengundang para Netizen, Influencer, dan Penggiat Media Sosial yang ada di Indonesia untuk diskusi bersama. Medan pun dipilih sebagai kota pertama yang mendapat kunjungan tersebut dan menyusul kota-kota besar lainnya. Sebagai salah satu Komunitas Media Sosial yang aktif di kota Medan, Blogger Medan pun diundang untuk diskusi bersama ke acara tersebut. Jadi bukan mau demo ya. Hhhehe

Sore itu langit mulai mendung. Tadinya aku sedikit malas untuk hadir, tapi setelah aku pikir kembali, ini adalah kesempatan langka, kapan lagi rakyat biasa sepertiku bisa bertemu dan mengobrol langsung dengan para Wakil Rakyat tersebut. Akhinya aku pun berubah pikiran.

Baru beberapa menit keluar dari kos, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya. Sepertinya aku harus mulai meninggalkan keyakinanku pada sebuah pepatah yang mengatakan kalau tak selamanya mendung itu hujan, pasalnya mendung lebih sering berakhir dengan turunnya hujan, layaknya sebuah harapan yang lebih sering berujung kekecewaan. Hhhehe

Setelah hampir setengah jam berteduh di sebuah warung, perlahan hujan mulai reda, Aku pun memacu sepeda  motorku kembali. Sekitar jam enam sore, sampailah aku di lokasi acara yang bertempat di SwissBell Hotel Medan. Usai memarkirkan motor, aku menuju lantai dua. Ternyata disana sudah banyak kawan-kawan yang berdatangan. Dan yang membuatku semakin kaget adalah mereka semua telah mengenakan sebuah seragam berwarna hitam, sementara aku datang dengan pakaian biasa. Awalnya aku berpikir kalau aku  salah kostum, tapi setelah melakukan registrasi akhirnya aku diberikan seragam yang sama dengan yang lain. Tau gitu mending dari kos tadi pake kaos biasa aja, ga usah setelan rapi pakai kemeja segala ya kan. Hhhehe

IMG_5448

Waktu Maghrib pun tiba, Aku dengan kawan-kawan Blogger Medan menuju Mushola untuk melaksanakan Sholat Maghrib. Awalnya aku mengira pihak manajemen SwissBell Hotel hanya menyisakan sebuah ruangan kecil untuk dijadikan Mushola. Tapi nyatanya Mushola disini cukup luas dan nyaman.

Sehabis Sholat, kami kembali ke ruangan acara  yang bertempat di Diamond Ballroom untuk makan malam bersama. Sebagai seorang anak kos yang jauh dari orangtua, momen gratisan seperti ini tentu menjadi kesenangan tersendiri. Apalagi waktu itu sudah memasuki akhir bulan, kan lumayan buat menghemat pengeluaran. Hhhehe

IMG_5465

Sekitar pukul 18.30 WIB acara pun dimulai oleh moderator yang diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya bersama seluruh hadirin. Selepas itu moderator mempersilahkan Bang Wahyu Blahe untuk memberikan kata sambutan, beliau merupakan sesepuh dari Komunitas Blogger Medan ini. Kemudian dilanjutkan oleh kata sambutan dari pihak MPR RI yang diwakilkan oleh Ibu Siti Fauziah selaku Kepala Biro Humas Sekjen MPR dan Pak Andrianto Majid selaku Kepala Bagian Pusat Data dan Informasi. Tadinya sih ekspektasiku yang hadir itu adalah Pak Zulkifli Hasan atau Pak Hidayat Nur Wahid. Kapan lagi bisa bertatap muka langsung dengan Ketua MPR RI atau Mantan Ketua MPR RI. Hhhehe

IMG_5421

Kata- kata sambutan pun selesai, masuklah kami ke intisari dari acara tersebut. Ibu Fauziah dan Pak Andrianto pun memaparkan tujuan mereka mengadakan kegiatan diskusi bersama para Netizen dan Influencer yang ada di Indonesia. Tidak lain dan tidak bukan adalah mereka menghimbau agar masyarakat Indonesia khususnya para warganet agar lebih bijak menggunakan media sosial yang ada, tidak menyebarkan isu-isu yang masih diragukan keabsahannya, dan tidak menerima mentah-mentah segala informasi yang beredar di internet  yang bisa saja itu adalah berita bohong alias hoax. Jangan  mau diadu domba oleh oknum-oknum yang menjadikan media sosial sebagai alat untuk memecah belah kita.

IMG_5466
Ibu Fauziah dan Pak Andrianto.

Kemudian selain daripada itu, MPR juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali kepada 4 Pilar Kebangsaan Indonesia, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Keempat pilar inilah yang telah menyatukan Bangsa Indonesia yang memiliki keberagamanan Suku, Budaya, dan Agama. Sistem demokrasi yang dianut oleh negara ini memperbolehkan rakyatnya untuk bebas mengemukakan pendapat dan memiliki hak yang sama untuk memilih siapapun yang menurutnya pantas untuk memimpin negara ini dan membawanya ke arah yang lebih baik. Namun sebagai bentuk kedewasaan berpolitik harusnya  masyarakat tidak boleh menghakimi apalagi menjelekkan siapapun  yang memiliki opini dan pilihan yang berseberangan dengannya. Tidak lupa MPR RI  juga mengingatkan bahwa mereka akan terus memberikan perannya untuk menjaga keutuhan NKRI dari segala upaya-upaya yang dapat merusak 4 pilar tersebut.

Obrolan pun semakin seru ketika moderator memberikan kesempatan kepada para hadirin yang ingin memberikan tanggapan. Ada yang mengemukakan segala harapannya kepada MPR RI, ada juga yang menanyakan polemik-polemik yang berkembang pesat di kalangan masyarakat. Ibu Fauziah dan Pak Andrianto pun begitu bersemangat menanggapi semua pertanyaan yang ditujukan kepada mereka. Dan khusus untuk Pak Andrianto, sosok yang sekilas mirip dengan penyanyi solo Sammy Simorangkir ini paling lugas dan santai memberikan tanggapannya. Hhmm kira-kira suara Pak Andrianto juga sebagus Sammy Simorangkir ga ya ??? Hhhehe

Dua jam berlalu, tak terasa jarum jam telah berada di angka 09.30 malam. Acara pun ditutup dengan foto bersama. Setelah agenda gathering usai, sesama blogger pun tidak langsung pulang, kami masih betah mengobrol seru seputar perkembangan dunia digital dan lain sebagainya. Asyik mengobrol kami pun sampai lupa kalau kami masih berada di hotel, tadinya sih pengen nginap disana. Tapi berhubung tarifnya kurang bersahabat dengan kantong, akhirnya kami memilih pulang saja. Hhhehe

IMG_5439

Menuju lift hotel aku pun baru teringat kalau sepertinya aku salah memarkirkan sepeda motor. Karena terlalu buru-buru, ternyata motor  kutinggalkan di area khusus parkir driver online. Sialnya, entah kenapa aku lupa tadi jalannya lewat mana. Syukurlah ada seorang teman baik bernama Yoga yang bersedia menemaniku berkeliling mencari lokasi motorku berada. Terimakasih Bre Yoga. Hhhhe

Perbedaan pendapat harusnya tidak menjadikan kita saling sikat, demokrasi bukanlah panggung untuk saling mencaci maki. Jangan menyinggung soal SARA, hargai setiap pilihan yang berbeda, dan hormati setiap prinsip dan  keyakinan pemeluk agama yang ada.

IMG_5464
Komunitas Blogger Medan

IMG_5437

Nah bagaimana dengan kamu ? Siap berada di barisan pemersatu bangsa atau justru memilih menjadi oknum pemecah belah bangsa ?

 Nb : Semua foto hasil jepretan kawan-kawan Blogger Medan

Ngopi Cantik di Bumi Aceh Coffee, Coffee Shop & Roasted di Sudut Kota Takengon

“ Kopi mengajarkan kita bahwa rasa pahit itu bisa dinikmati

Kopi  mengajarkan kita bahwa hitam juga mampu memikat hati “

31 Maret 2018

Rasanya kurang lengkap bila berkunjung ke Takengon  tanpa menikmati secangkir kopi Gayo yang merupakan ikon daerah pegunungan tersebut. Jika dibandingkan dengan cuaca di daerah lain di kawasan Aceh yang dikenal panas, Takengon merupakan satu-satunya yag memiliki hawa yang sejuk, maka tak heran jika perkebunan kopi tumbuh sangat subur, warung-warung kopi pun begitu menjamur, setiap sudut kota, persimpangan jalan, bahkan di setiap gang banyak berjejer Kedai Kopi. Aku jadi sedikit geli, kalau di Medan kental dengan budaya minum tuaknya, maka disini kental dengan budaya minum kopi.

Selepas berjalan-jalan melihat keelokan Danau Laut Tawar, aku mampir ke Bumi Aceh Coffee,  salah satu Kedai Kopi yang berada di pusat kota. Sebelumnya aku mendapatkan tempat ini melalui rekomendasi seorang barista saat aku berkunjung di daerah Pantan Terong sehari sebelumnya. Ia menyebutkan bahwa selain bisa ngopi di kafe tersebut, aku juga bisa melihat-melihat proses Roasting Kopi yang mereka lakukan dengan mesin yang sudah sangat modern. Hal ini membuatku semakin penasaran, pasalnya aku belum pernah melihat langsung proses menyangrai kopi, apalagi dengan mesin yang sudah canggih. Wah pasti seru nih !

Bumi Aceh Coffe berada di Jalan Lebe Keder, Simpang Empat Takengon. Kedai Kopi tersebut tempatnya tidak begitu besar, luas bangunannya mungkin hanya sekitar 7 x 15 meter saja. Warkop yang ada di Takengon memang mayoritas mengusung tema minimalis, bahkan ada yang membuka kedai kopi hanya bermodal sebuah minivan. Budaya ngopi sepertinya memang sudah menjadi gaya hidup yang begitu mendarah daging bagi warga Aceh, khususnya warga Takengon.

IMG_1007

Sekilas Bumi Aceh Coffee tampak seperti warkop kebanyakan, semua tampak biasa-biasa saja tanpa ada sesuatu yang spesial. Terdapat beberapa meja dan kursi di depan yang berhadapan  dengan sebuah stand yang terbuat dari kayu, di stand tersebut tertulis varian menu yang ada  dan aku juga bisa melihat secara langsung bagaimana kopi itu itu diracik oleh Baristanya.

IMG_0903

IMG_0902

Namun hal istimewa dari Warkop  yang buka dari jam 9 pagi sampai jam 11 malam ini justru berada di ruang belakang. Begitu masuk ke dalam mataku langsung tertuju kepada sebuah mesin roasting berukuran besar yang berdiri di tengah ruangan. Biasanya aku hanya melihat alat tersebut lewat tv atau youtube, tapi kini aku bisa melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Bukan cuma satu, Bumi Aceh Coffee ternyata memiliki dua mesin sangrai, satu untuk kapasitas 5 kg sedangkan yang satunya mampu menyangrai 15 kg kopi. Coba kalian tebak berapa harga untuk satu alat roasting tersebut ? Awalnya aku hanya mengira mesin buatan Turki itu hanya berkisar puluhan juta, namun ternyata harganya menyentuh angka Rp. 260 juta, bahkan untuk mesin berkapasitas 15 kg berada di angka Rp. 360 juta. Bayangkan berapa modal yang sudah digelontorkan untuk membangun Kedai Kopi ini yang sudah berdiri sejak 5 tahun yang lalu ini. Aku sampai menelan ludah sendiri membayangkan uang sebanyak itu. Hhhehe.

IMG_0851
Mesin Roasting kapasitas 5 kg
IMG_0873
Mesin Roasting kapasitas 15 kg

IMG_0878

IMG_0871

IMG_0895

IMG_0899.JPG

Bang Rizal selaku owner Bumi Aceh Coffee menuturkan bahwa itu bukan harga tertinggi untuk sebuah mesin roasting, bahkan ada yang mencapai 1 milyar, sontak aku semakin kaget mendengar ucapannya. Satu milyar untuk sebuah mesin roasting ????? Ngeriiiihhhhhh !!!!!!

IMG_0887
Bersama Bang Rizal, Owner Bumi Aceh Coffee

IMG_0885

Rasa penasaranku semakin memuncak, mumpung pemilik Coffee Shopnya ada di depanku, aku pun iseng menanyakan total penjualan mereka dalam satu bulan. Ternyata dalam satu bulan itu Bumi Aceh Coffee minimal menjual 1 ton coffee roasted. Meski mayoritas memang pesanan dari warkop-warkop di seputaran Aceh, namun mereka juga sering mendapatkan orderan dari Yogyakarta. Dan yang paling laris itu adalah jenis Specialty yang harganya sekitar Rp.200.000 /kg. Bayangkan berapa keuntungan yang mereka dapatkan, itu masih jenis specialty aja ya, belum lagi kopi luwak yang harganya Rp.600.000/kg. Hitung sendiri ya, capek aku ngitungnya, Hhhehe

IMG_0882

IMG_0901

Selama berbincang-bincang dengan Bang Rizal, aku mendapatkan sebuah pelajaran dari percakapan kami.

“Tidak ada kopi dan warkop yang terbaik, semuanya kembali kepada selera kita masing-masing, dan selera itu tidak bisa dipaksakan. Sama halnya dengan rokok, jika aku sukanya Sampoerna sementara kamu sukanya Marlboro, ga mungkin kan aku paksakan kamu biar suka Sampoerna,” tutur pria berkulit putih tersebut.

Waktu berada di angka 10.30 siang, itu pertanda bahwa aku harus menghentikan obrolan kami karna masih banyak spot wisata yang harus aku datangi di Kota Takengon ini.

Terimakasih Bumi Aceh Coffee, suatu saat aku pasti kembali lagi.

IMG_0905.JPG

Baca juga : Jelajah Takengon, Negeri Diatas Awan Di Kabupaten Aceh Tengah

Nb : Foto menggunakan Canon EOS m100

Jelajah Takengon, Negeri Diatas Awan Di Kabupaten Aceh Tengah

29 Maret 2018

Bus melaju dengan kecepatan sedang menembus malam yang gelap, suasana jalan lintas tidak begitu padat waktu itu. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 5 subuh, roda Bus berhenti di simpang Matang Glumpang 2 Kabupaten Bireuen. Di titik ini aku akan bertemu pertama kalinya dengan Rama, seorang pemuda yang direkomendasikan oleh rekan kerjaku untuk menemaniku menjelajahi sebuah kota di kawasan Aceh yang terkenal dengan kopi dan dinginnya sejuknya, yaitu Takengon.

Setelah turun dari Bus, aku segera menghubungi Rama via WhatApp. Beberapa detik berselang ternyata chat  yang aku kirim belum masuk juga alias pending, akhirnya aku pun meneleponnya, dan aku baru sadar kalau ternyata pulsaku juga habis, mau beli pulsa toko pun masih tutup semua.

“ Mampuslah, dibegal orang pulak lah aku nanti ini,” bisikku dalam hati.

Keadaan jalanan  pagi itu sangat sepi, hanya sesekali ada Bus atau mobil pribadi yang lewat, ditambah hari yang masih gelap gulita, rasa cemas pun menghampiri. Beruntung tidak jauh dari persimpangan jalan sepertinya ada sebuah Mesjid, aku pun melangkah kesana karena kebetulan waktu shalat subuh juga sudah dekat. Sehabis melaksanakan shalat aku kembali mengecek ponsel, dan ternyata chat yang aku kirim ke Rama dari tadi belum masuk juga. Akhirnya aku putuskan untuk berdiam di Mesjid tersebut sembari menunggu hari terang.

IMG_5031

Jarum jam berada di angka 8, usai sarapan aku kembali mengecek ponsel, dan nyatanya chat itu belum masuk juga, lalu aku perhatikan di sekitar jalan belum ada juga Kios Pulsa yang buka. Akhirnya tanpa pikir panjang dan sedikit menahan malu, aku pun menelepon Rama dengan harapan dia masih punya pulsa dan mau menelepon balik. Selang beberapa detik tampaknya ada telepon masuk, dan setelah aku jawab ternyata itu dari Rama. Alhamdulillahhh aku aman. Hhhehe

Usai berjumpa dengan Rama, pemuda kurus itu pun mengajakku ke kos-kosannya untuk istirahat sejenak sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Takengon. Untuk melepas lelah aku pun  tiduran di sebuah ruang tamu seluas 4×6 meter dengan dinding beton dan lantai terbuat dari semen tanpa keramik tersebut sambil mengisi daya baterai ponselku yang udah sekarat. Dua jam berlalu, sehabis mandi dan berkemas aku dan Rama berangkat menuju negeri diatas awan tersebut  dengan sepeda motor.

Rama mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Aku heran jalanan begitu sepi padahal hari Jumat itu adalah libur panjang. Hal ini sangat beda jauh dengan kondisi lalu lintas yang ada di Medan, biasanya kalau libur panjang seperti ini lalu lintas arah Medan – Berastagi atau arah Medan – Parapat pasti macet. Sementara lalu lintas menuju Aceh terlihat lengang.

XWOM5377

IKDG4349

Aku jadi berpikir mungkin beban kerja di kota Medan begitu berat sehingga warganya menjadi haus dengan yang namanya liburan, pantang libur sedikit pasti langsung pergi liburan. Entahlah mungkin itu hanya perasaanku saja. Hhehehe

Di tengah perjalanan Aku dan Rama sempat singgah sebenar di sebuah tebing yang disebut Cot Panglima. Aku pun segera mengeluarkan kameraku untuk mengabadikan pemandangan alam nan hijau yang terpampang indah dari atas tebing tersebut.

NGPO7061

OEEB0554

10 menit berlalu, sepeda motor kembali melaju. Cuaca yang tadinya cerah perlahan mulai mendung, tak lama berselang rintik hujan mulai turun dan lama kelamaan semakin deras. Aku dan Rama kemudian mencari tempat untuk berteduh, lalu singgahlah kami di sebuah Mesjid di pinggir jalan. Rama pun tersadar kalau ternyata ia lupa membawa mantel. Sehingga mau tidak mau kami harus menetap dulu sementara di Rumah Allah tersebut. Waktu telah menunjukkan pukul 12.30 siang, hujan pun tak kunjung reda. Akhirnya kami pun melakukan ibadah Sholat Jumat disana. Alhamdulillah Allah telah mengabulkan doaku, usai Shalat Jum’at hujan pun berhenti. Tanpa pikir panjang kami pun segera bergegas menuju Takengon.

Awan mendung pun mulai menemani sisa perjalanan kami yang sesekali disertai oleh rintik hujan. Sekitar jam 3 sore tibalah kami di Kota Takengon, dan destinasi wisata yang pertama kami kunjungi adalah sebuah area perbukitan yang dinamakan Pantan Terong. Jalanan yang menanjak memaksa sepeda motor matik yang kami naiki harus bekerja sedikit lebih keras. Untungnya kondisi jalan disini sudah diaspal dan cukup lebar sehingga tidak berbahaya dan dapat  diakses oleh mobil pribadi.

Waktu menunjukkan pukul 3 sore. Akhirnya kami sampai di kawasan wisata Pantan Terong. Sebelum masuk ke dalam kami harus membayar retribusi dulu seharga Rp. 15.000, itu sudah termasuk parkir dan biaya masuk untuk dua orang. Hal pertama yang membuat aku terkesan adalah tidak ada satu pun sampah yang berserakan disini, semuanya bersih dan tertata rapi. Cuaca yang dingin ditambah semilir angin pun membelai badanku yang hanya mengenakan kaos, awalnya aku ingin mencoba menantang cuaca, namun akhirnya aku harus mengalah dan memakai  sebuah sweater untuk menahan hawa dingin yang cukup hebat disana.

AHTJ0780

RFFB7426

Puncak Pantan Terong ini dikelilingi oleh perbukitan yang asri dan hijau sehingga memanjakan mata siapapun yang memandangnya. Dari sini kami dapat melihat suasana Kota Takengon dan panorama Danau Laut Tawar dari kejauhan. Objek Wisata ini cukup ramai dikunjungi oleh para wisatawan, baik dari Takengon, maupun luar Takengon. Disini juga terdapat sebuah Warung Kopi yang menyediakan Kopi asli Gayo, Aku pun menyeruput segelas Espresso dan Rama memilih secangkir Cappuccino sambil menikmati suasana alam yang begitu tenang dan damai. Bukan hanya minum kopi, buat para pengunjung yang lapar juga bisa mengisi perut di Warkop bernama Kenik ini, cuma sayangnya disini cuma ada Pop Mie. Jadi sebaiknya sebelum kesini sebaiknya beli makanan dulu di luar jika memang tidak begitu menyukai micin-micinan. Hhhehe

EIMC3225KOEU6320

BOEK8582

HCIK5922

NZBP8865

KKJG2936

XDNH9307

YBTN9088

HLPY9088

Tak terasa dua jam berlalu. Hari semakin sore dan kami harus bergegas menuju pusat kota untuk bermalam. Namun sayangnya ditengah perjalanan kami dihadang oleh hujan yang sangat deras, berhubung mantel tidak ada maka mau tidak mau kami harus berteduh sejenak di teras rumah salah satu warga. Setelah hampir satu jam akhirnya hujan pun reda dan kami kembali melanjutkan perjalanan. Sesampainya di pusat kota yang terkenal dengan Kopi Gayonya tersebut kami singgah sebentar di sebuah Mesjid untuk menunaikan Sholat Maghrib. Awalnya Aku dan Rama berencana untuk menginap di Mesjid tersebut, tapi ternyata pengurus mesjid tidak memperbolehkan kami untuk tidur disana. Kalo boleh kan lumayan buat menghemat biaya. Hhehe

ALFS4447

Setelah mendapat penolakan dari pihak Mesjid, akhirnya kami pergi mencari hotel yang murah di Kota Takengon. Satu persatu penginapan pun kami datangi, mulai dari yang memakai nama “ Hotel”, “Wisma”, sampai “Guest House”. Setelah lelah keliling kota mencari tempat menginap yang murah, kami hampir menyerah karena rata-rata harga sewa hotel disana berkisar Rp. 150.000 keatas. Sementara harga yang kami inginkan adalah maksimal Rp.100.000. Diujung rasa putus asa tersebut akhirnya Allah menunjukkan secercah harapan kepada kami. Mataku menangkap sebuah baliho kecil berwarna kuning bertuliskan “ Arizona Guest House” bertengger di pinggir jalan yang terhimpit oleh sebuah baliho besar. Tanpa pikir panjang kami pun menuju kesana. Tadinya kami pesimis karena melihat dari bentuk bangunan Guest House tersebut tidak pasti harga sewanya sekitar dua ratus ribuan, namun akhirnya kami memberanikan diri untuk menanyakannya ke dalam. Dan ternyata dugaan kami salah, meski bentuk bangunannya terkesan sedikit mewah, tapi nyatanya harganya sangat murah. Untuk kelas Premium saja harga yang ditawarkan hanya Rp. 150.000/ malam. Sedangkan kami lebih memilih kelas standar seharga Rp.100.000/malam. Dan menurutku itu adalah harga yang sangat murah, melihat kondisi kamarnya memiliki fasilitas yang cukup lengkap.

EYQD8274

HWBI9454

OKFY0810

QFBH6735

WKUR9489

 

AXSV4896

AEOV7798

RQXQ8589

Keesokan harinya, Aku dan Rama bangun dengan badan yang segar karena cuaca yang dingin membuat tidur kami sangat nyenyak. Dari balik jendela kamar aku melihat matahari begitu cerah, barisan perbukitan yang mengitari kota ini terlihat ditutupi oleh kabut, maka tak heran jika Takengon dijuluki negeri diatas awan, sebab fenomena yang aku lihat pagi itu membuktikan semuanya.

LAEK5677

Sekitar pukul 8 pagi, sehabis mandi dengan air sedingin es kami kembali melanjutkan penjelajahan kami ke destinasi wisata yang menjadi ikon Kota Takengon, yaitu Danau Laut Tawar. Jarak antara Hotel dan Danau tersebut tidak begitu jauh, cukup ditempuh dengan waktu sekitar 20 menit. Suasana disini begitu tentram, hawanya begitu sejuk, tidak ada kemacetan lalu lintas, tempat yang sangat cocok bagi yang ingin menenangkan diri dan menjernihkan pikiran dari hiruk pikuk perkotaan. Buat yang ingin bulan madu juga pas, cuacanya dingin-dingin gimana gitu. Hhhehe

ODHG7085

KRTV5834

XRXI0144

MYYS3551

OXAF3052

Aku dan Rama pun berhenti di sebuah tebing yang tepat menghadap Danau Laut Tawar. Airnya sangat tenang, hamparan bukit barisan yang mengitari membuatnya semakin eksotis, kicauan burung-burung menambah suasana teduh nan damai. Tidak puas hanya memandang dari atas tebing, kami mencoba untuk turun ke pinggir danau untuk menikmati ciptaan Tuhan tersebut lebih dekat. Sialnya kami tidak membawa tenda saat itu, padahal spotnya sangat cocok untuk dijadikan tempat camping bersama. Sekilas Danau ini memang mirip dengan Danau Toba, bedanya mungkin disini lebih sejuk dan sepi, sayangnya pemerintah setempat kurang mengembangkan potensi wisata yang dimilikinya, padahal aku yakin jika Danau Laut Tawar ini mampu menjadi Objek Wisata yang dapat bersaing dengan Danau Toba.

ODAV8978

QUTN6679

VYKZ5033

XEJE3963

QAGZ7333

TBUC2388

LBCN3670

Tidak jauh dari Danau juga terdapat sebuah goa yang menyimpan sebuah mitos bagi warga setempat. Singkat cerita konon ada seorang putri Raja yang bernama Putri Pukes yang menikahi seorang pemuda dari negeri seberang, saat akan meninggalkan Kerajaan orangtua sang Putri berpesan agar tidak menoleh ke belakang saat melangkahkan kaki keluar Kerajaan. Namun sayangnya karena terlalu sedih dan teringat kepada Ayah dan Ibunya tanpa sengaja Putri Pukes pun menoleh ke belakang, seketika muncullah petir yang menyambar disertai angin puting beliung dan hujan yang lebat. Putri dan pengawalnya pun melindungi diri dalam sebuah Goa. Perlahan tubuh putri pun mengeras, ia pun terkejut dan menangis. Menurut Penjaga Goa ini sekitar tahun 1990 patung Putri Pukes masih terlihat jelas seperti sedang bersujud, namun seiring berjalannya waktu stalakmit dari atas Goa terus berjatuhan ke Patung tersebut, jadi bentuknya sudah tidak begitu jelas. Sayangnya saat itu kamera belum booming seperti sekarang, dan juga wisatawan belum banyak yang berkunjung kesana sehingga tidak ada dokumentasi berupa foto yang menggambarkan bentuk awal Patung Putri Pukes. Terlepas dari benar tidaknya legenda ini, kita dapat mengambil sebuah hikmah bahwa sebagai anak kita tidak boleh sekalipun mengabaikan nasihat dari Orangtua yang telah melahirkan dan membesarkan kita.

RMKB6027

 

AGEG7915
Patung yang konon katanya adalah jelmaan Putri Pukes

 

VBAK5343
Foto bareng berhala yang disembah oleh para penganut animisme zaman dahulu.

KWNF3913

Setelah puas menikmati keelokan Danau Laut Tawar dan mendengar legenda Putri Pukes. Kami meneruskan langkah menuju objek wisata “Kekinian” yang ada di Tanah Gayo ini Usai menempuh waktu 30 menit dengan kondisi jalan yang menanjak tibalah kami di spot wisata Bur Telege. Selepas membayar tiket masuk seharga Rp.2500 kami mulai memasuki kawasan wisata yang mulai hits setahun belakangan ini. Dari area parkir kami harus berjalan menanjak lagi sejauh 100 meter. Destinasi wisata yang berada di Kampung Hakim Bale Bujang ini letaknya berdampingan dengan Danau Laut Tawar, jadi dari sini kami juga bisa melihat pesona danau dari atas. Kebetulan karena pas weekend, banyak orang yang mengunjungi tempat ini. Banyaknya pohon pinus yang tumbuh dan alam yang asri membuatnya menjadi pilihan yang tepat untuk melepas penat dan bersantai dengan keluarga. Tidak lupa pihak pengelola Bur Telege juga menyediakan tempat-tempat berswafoto yang tentunya menambah keunikan dan pengalaman tersendiri bagi wisatawan yang datang. Satu hal lagi yang menambah poin plus Bur Telege bagiku adalah kebersihan tempat ini yang sangat terjaga dengan baik.

 

LCTS1616
Kondisi jalan menuju Objek Wisata Bur Telege

RVSE6956

AYPK1770

EFSX0745

GENZ3381.JPG

CVTP4235

 

 

RHGL2712
Dilarang Melakukan Khalwat ( Zina ) 😀

EBMQ7604

DCTJ8086

BYQG1842

VJYK5503.JPG

XTTU8014.JPG

VNWX9767.JPG

KDOM6095.JPG

OKMD9824

QROL8397.JPG

DRVW1083.JPG

HMHI4346.JPG

 

JPBX1789.JPG
Parkiran Sepeda Motor

 

PWQD7146.JPG
Parkiran Mobil

XPBX4705.JPG

 

KCEI4266.JPG
Coffee Shop Keliling

SSUK0528.JPG

APDE9789
Keindahan Danau Laut Tawar dari Puncak Bur Telege

Matahari semakin terik, jarum jam telah berada di angka 12 siang. Kami pun bersegera kembali hotel untuk mengemasi barang dan berangkat menuju destinasi liburan kami selanjutnya.

Bagaimana kawan-kawan ? Kalian tertarik melancong ke Takengon ?

 

 

 

 

Outbound Seru di Kampung Ladang Bersama Karyawan RSU Mitra Medika Medan

Beberapa waktu lalu Rumah Sakit Mitra Medika telah mendapatkan nilai Akreditasi Paripurna dari Komite Akreditasi Rumah Sakit ( KARS ), sebagai seorang karyawan yang bernaung di dalamnya aku cukup merasa bangga, sebab tidak banyak Rumah Sakit yang mendapatkan penghargaan serupa di Medan ini. Sebagai bentuk rasa syukur atas pencapaian tersebut, pihak Direksi Rumah Sakit pun mengadakan acara Outbond ke Kampung Ladang untuk sekedar menghibur dan menghilangkan penat kepada seluruh staffnya.

Alur keberangkatan dibagi menjadi 3 gelombang, yaitu hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Aku  ditakdirkan berada pada gelombang kedua, padahal aku tahu diduakan itu pasti tidak enak rasanya, hhehe

Waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Setelah semuanya berkumpul di RSU Mitra Medika kami pun beranjak dengan penuh semangat menuju Kampung Ladang  menggunakan Bus. Sepanjang perjalanan, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing, ada yang menggosip, ada yang mulutnya mengunyah saja, ada yang heboh selfie, ada yang serius dengan gadgetnya, bahkan ada yang hanya duduk termenung menatap keluar jendela Bus dengan pandangan kosong, mungkin teringat mantan, mikirin gebetan, atau justru mungkin terbayang-bayang sama hutang. Hhhehe

UMIC8183

TJMF0023

vlcsnap-2018-03-29-01h36m23s563

vlcsnap-2018-03-29-01h40m05s157

vlcsnap-2018-03-29-01h42m02s871

vlcsnap-2018-03-29-01h41m26s256

Sekitar jam 9 pagi kami pun tiba di area outbond yang berada di kawasan Tuntungan, Kabupaten Deli Serdang tersebut. Para fasilitator yang akan memandu kegiatan ini sudah siap menunggu kami. Acara pun dimulai, seluruh peserta dikumpulkan di tengah lapangan untuk melakukan pemanasan yang disebut Brain Gym atau senam otak,  banyak yang mengalami kegagalan disini, salah satunya aku, mungkin harus sering dilatih otakku ini ya. Hhhehe

vlcsnap-2018-03-29-01h38m25s733

vlcsnap-2018-03-29-01h39m14s539

SYWY4545

NIHA7417

Acara pun berlanjut, fasilitator mengajak kami bermain Polisi dan Maling, kami diberikan dua buah tali yang berbentuk lingkaran, satu berwarna merah yang berarti Polisi, satu lagi berwarna belang yang menandakan Maling, ketentuannya adalah orang yang mendapat tali merah harus menjatuhkan tali tersebut dari atas kepala sampai kaki sebanyak satu kali kemudian melingkarkannya ke orang di sebelah kanannya dan begitu seterusnya. Sedangkan yang mendapat tali berwarna belang harus menjatuhkan tali tersebut dari atas kepala hingga kaki sebanyak dua kali kemudian melingkarkannya ke orang sebelah kanannya dan begitu seterusnya. Lalu orang yang kedua tali tersebut berada di badannya maka ia tertangkap dan harus menerima hukuman. Kebetulan ada enam orang yang tertangkap pada permainan ini dan diberi hukuman menari di hadapan seluruh peserta sambil diiringi musik.

CGOJ2965

Selepas bermain Polisi dan Maling, kami beranjak ke game  yang menurutku paling menguras tenaga. Fasilitator memberikan beberapa instruksi, yaitu saat mereka mengatakan “ Tugu Raja Batak “ maka kami harus mengepalkan tangan kami keatas sambil berkata “huh”, lalu saat mereka menyebut “ boncengan sepeda motor “, maka kami harus mencari satu teman dan memperagakan hal tersebut. Kemudian ketika kami mendengar “ Traffic Light “, maka kami harus berjumlah tiga orang dan membentuk satu barisan sambil menguncupkan ujung jari berulang-ulang. Begitu juga saat mendengar  instruksi “ Bunga Matahari “, maka kami harus berjumlah empat orang untuk membentuk lingkaran dan melakukan gerakan menguncup dan mengembang bersama-sama. Dan yang terakhir waktu fasilitator menyebutkan “ Mendayung Perahu “, maka kami harus berjumlah 5 orang sembari melakukan gerakan mendayung perahu

WCVT2205

AMYN6914

CANON 60D87

Tak terasa jarum jam berada di angka 12, para peserta Outbond pun dipersilahkan untuk istirahat, sholat, dan makan. Selang satu jam kegiatan pun dilanjutkan kembali. Kami dibagi dalam 8 kelompok dan masing-masing kelompok harus menunjuk satu orang Leader, lalu setiap tim harus menyiapkan sebuah nama yang berhubungan dengan Rumah Sakit dan yel-yel kelompok. Aku pun ditunjuk sebagai Leader tim kami yang kami sepakati diberi nama Dulcolax, yaitu sejenis obat pencahar karena kebetulan kami sedang sakit perut karena terlalu sering menelan janji-janji manis. Hhehe

Setelah semua tim selesai menyiapkan yel –yel, fasilitator mempersilahkan masing-masing Ketua kelompok untuk maju ke depan, lalu mereka menanyakan alasan setiap tim memutuskan orang tersebut sebagai Leader. Jawaban-jawaban nyeleneh pun bermunculan, ada yang memilih karena orang tersebut berwajah imut, ada yang memilih karena orang tersebut pandai bergaya, dan bahkan yang paling aneh adalah ada yang memilihnya sebagai ketua hanya karena dia memakai celana berwarna Orange. Beruntung ini hanya permainan, bayangkan jika hal tersebut berlaku dalam hal Pemilu, masa kita memilih seorang pemimpin hanya karena wajahnya atau karena suka dengan warna bendera partainya, kenapa aku jadi bahas politik ya ? Hhhehe

CANON 60D103

CANON 60D125

CANON 60D126

CANON 60D102

Kegiatan pun beranjak ke Slyer Game. Setiap Tim harus meletakkan sebuah gelas penuh berisi air diatas selembar kain besar berbentuk persegi, kemudian kami harus mengangkat kain tersebut dan membawanya ke titik tujuan yang telah fasilitator tentukan. Dan ketika gelas yang berisi air tersebut jatuh ditengah perjalanan, maka kelompok tersebut wajib mengulangnya dari awal kembali. Diperlukan kesabaran yang ekstra untuk menyelesaikan tantangan game ini. Sama halnya seperti aku yang terus bersabar menahan rindu yang tak kunjung terobati. Hhhehe

BQKG0851

IZJB3682

Usai menahan kesabaran di Slyer Game, kami pun menuju permainan yang aku sebut “ Bisikan Kebaikan atau Kejahatan “. Disini masing-masing anggota tim akan ditutup matanya secara bergiliran, lalu satu orang ditugaskan untuk memberikan arahan kepada teman yang ditutup matanya tadi untuk berjalan mengikuti pola dan mengambil sebuah bola yang telah diletakkan disana. Agar game ini semakin seru, tim lawan akan menjadi setan pengganggu dan diperbolehkan untuk mengacaukan konsentrasi pendengaran lawannya dengan berteriak atau memberikan komando palsu agar orang yang tertutup matanya tadi kebingungan menentukan arah langkahnya.

CANON 60D167

CANON 60D173

CANON 60D174

Sehabis bermain di daratan, rasanya kurang puas jika tidak ada permainan airnya. Selanjutnya para peserta outbond diarahkan fasilitator menuju sebuah kolam yang di permukaannya telah terbentang dua buah bambu panjang yang saling berhadapan dan tersambung dengan papan penghubung. Kemudian dua orang anggota tim harus berjalan melewati dua buah bambu tersebut dengan cara kedua tangan peserta harus saling menolak satu sama lain. Banyak yang gagal pada game ini, mungkin karena terlalu grogi dengan pasangan bermainnya sehingga susah menjaga keseimbangan dan akhirnya harus jatuh ke dalam kolam.

GVTR5023

JJCU3835

Tong Berlubang pun dijadikan sebagai game penutup acara outbond ini. Setiap tim diharuskan untuk menutup setiap lubang yang berada di tong tersebut dengan tangan, kaki, bahkan mulut. Sementara dua orang dari masing-masing tim harus mengisi tong tersebut dengan air. Tim dengan jumlah air terbanyak di dalam tong akan jadi pemenangnya. Tadinya aku pikir ini permainan yang mudah, tapi ternyata tidak, semakin banyak debit air yang ada di tong, maka aliran yang menuju lubang justru semakin kencang sehingga kami harus menutupnya lebih rapat lagi. Belum lagi karena orang yang mendapat tugas untuk mengisi air terlalu bersemangat sehingga air itu lebih banyak mengenai kami daripada masuk ke dalam tong. Tapi Alhamdulillah tim kami Dulcolax menang di game ini melawan tim Code Blue yang kebanyakan berisi orang-orang tua yang mulai diserang sakit pinggang, jadi wajar saja kalau kami menang. Hhhehe

MZVO7788

KEKV7560

Semua permainan akhirnya selesai. Para peserta Outbond pun dipersilahkan untuk mandi dan bersiap-siap. Waktu menunjukkan pukul 4 sore, tibalah kami di puncak acara. Fasilitator pun mengumumkan tim yang menjadi juara, yaitu kelompok Asoy Geboy yang meraih poin tertinggi pada masing-masing game. Namun sayangnya sebagai juara mereka tidak mendapat hadiah, justru yang mendapat doorprize berupa Kompor Gas, Setrika, Dispenser, Magic Jar, Payung, dan Botol Minum adalah para peserta Outbond yang dipilih secara acak. Sabar ya Asoy Geboy. Hhehe

Rangkaian acara pun ditutup dengan bernyanyi dan menari bersama.

CANON 60D261

CANON 60D265

CANON 60D254

Banyak pelajaran yang dapat dipetik dari Outbond kali ini. Untuk membentuk sebuah tim solid diperlukan kekompakan antar anggota, dan untuk mencapai sebuah tujuan tidak perlu terburu-buru, semua harus dilalui dengan penuh kesabaran. Contohnya Slyer Game, jika satu orang saja tidak menarik ujung kain dengan ketat, maka gelas yang berisi air tersebut akan tumpah. Sama halnya dengan sebuah Rumah Sakit, jika salah satu karyawannya tidak melaksanakan tugas dan perannya dengan baik, maka tujuan Rumah Sakit tidak kan tercapai. Dan jika Rumah Sakit telah meraih apa yang diinginkannya, itu bukan karena jasa satu atau dua orang saja, tapi karena kontribusi dan peran seluruh elemen yang terkait di dalamnya.

CANON 60D10

CANON 60D216

Sukses terus Rumah Sakit Mitra Medika, We Serve You With Smile … 🙂 🙂 🙂

5 Hal Menarik Tentang Ekowisata Tangkahan

Tentu ada hal yang menjadi daya tarik tersendiri jika kamu memutuskan berkunjung ke sebuah tempat wisata. Entah itu karena pemandangannya yang asri, suasana alam yang  menenangkan, sungai yang jernih, laut yang biru, dan masih banyak lagi alasan orang-orang memilih tempat rekreasi. Sama halnya dengan Tangkahan, sebuah kawasan Ekowisata yang berada di Kabupaten Langkat ini juga menyuguhkan hal-hal unik di dalamnya yang sayang untuk dilewatkan. Apa saja hal-hal menarik yang ada di Tangkahan ? Berikut ulasannya :

1. Memandikan Gajah

IMG_4349

OOJA1889

Hewan besar dengan belalainya yang panjang ini bisa kamu temukan di Tangkahan, bahkan kamu punya kesempatan untuk memandikan satwa yang populasinya mulai terancam ini. Namun sayangnya kamu harus merogoh kocek sebesar Rp.100.000/orang agar bisa melakukan aktivitas unik tersebut. Sedikit info tambahan, kegiatan memandikan Gajah tersebut dimulai sekitar jam 3.30 sore ya teman, karena waktu siang Gajahnya masih main-main di hutan.

2. Menaiki Gajah

LZVZ8476

Selain memandikan Gajah, di Tangkahan kamu juga bisa menaiki satwa lucu ini. Cukup dengan membayar Rp.35.000/orang kamu sudah bisa mendapatkan kesempatan berada diatas hewan yang memiliki nama latin Elephas Maximus Sumatranus ini. Namun jika kamu ingin mengendarainya sambil mengelilingi kawasan hutan Taman Nasional Gunung Leuser, kamu harus menggelontorkan dana lebih lagi ya teman.

3. Wisatawan Asing

IMG_4350
Jomblo dilarang Baper 😁

Indonesia merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat diminati oleh para turis negara lain. Kedatangan para Wisatawan Asing ini tentu menjadi nilai tersendiri bagi sebuah tempat wisata. Meski peminatnya tidak sebanyak di Bali, namun Tangkahan cukup memiliki magnet untuk menarik perhatian para Bule ini. Dapat dibilang setiap hari selalu ada pengunjung dari negara lain yang datang ke kawasan Ekowisata ini. Jadi buat teman-teman yang ingin melihat mereka silahkan datang ke Tangkahan, jangan lupa mengabadikannya lewat foto ya sebagai kenang-kenangan. Siapa tahu dapat jodoh orang Bule juga, kan lumayan buat perbaikan keturunan 😁

4. Menjelajahi Sungai

originalasiadotnl Tubing / originalasia.nl

LXCU9951
Keliling Sungai dengan Perahu Boat

Kawasan Ekowisata yang berada di Kabupaten Langkat ini ternyata dibelah oleh Sungai Batang Serangan, jadi tidak heran jika Tangkahan ini memiliki banyak anak Sungai. Hal ini bisa menjadi spot yang menarik untuk kamu jelajahi. Ada dua alternatif yang bisa kamu pilih untuk menjelajahi area Sungai yang berwarna hijau tosca tersebut, pertama kamu bisa melakukan Tubing, yaitu meluncur diatas permukaan Sungai dengan menggunakan ban dalam mobil, kamu akan dikenakan biaya Rp 80.000/orang.  Atau kalau tidak ingin yang terlalu ekstrim kamu bisa memilih menggunakan Perahu Boat saja untuk menjelajah area Sungai, biayanya tergantung seberapa jauh area Sungai yang ingin kamu telusuri. Kalau tidak begitu jauh kamu cukup membayar Rp.10.000 saja. Murah kan ?

Baca juga : Liburan Irit di Tangkahan, Kawasan Ekowisata di Kabupaten Langkat

5. Panorama Alam yang Indah

SNZQ4111

IMG_4335

IMG_4435

IMG_4466

NUOT8170

Poin kelima ini adalah hal yang paling menarik dari Tangkahan. Kawasan yang termasuk dalam Taman Nasional Gunung Leuser ini menyajikan panorama alam yang indah nan eksotik. Sepanjang jalan kamu akan dibuat terpana oleh keindahan yang ada disini. Suasananya begitu tenang, alamnya begitu asri, udaranya sejuk, hamparan pepohonan hijau yang tersusun rapi dan kokoh yang dibelah oleh sungai Batang Serangan yang sangat bersih. Sangat cocok untuk kamu yang ingin menjernihkan pikiran dari segala hiruk pikuk perkotaan. Tempat ini juga direkomendasikan untuk yang  hobi fotografi, banyak spot-spot menakjubkan yang dapat kamu abadikan lewat lensa kameramu. Dijamin kamera kamu pasti kenyang memotret objek-objek yang ada disini.


Itulah 5 hal menarik yang ada di Tangkahan menurut sudut pandang penulis sendiri. Mungkin masih banyak hal-hal menarik lainnya yang luput dari pengamatan, atau mungkin saja dari kelima hal tersebut ada hal yang tidak begitu menarik perhatianmu. Aku tunggu komentarnya dibawah ya teman 🙂

IMG_4467

Tangkahan menarik bukan ? Tapi bagiku senyummu tetap lebih menarik perhatian 😁