Amplop Lebaran, Masihkah Kurindukan ?

Gimana puasa kalian ? sudah ada yang bolong belum ? Semoga masih lancar aja ya. Hhhehe

Tak terasa kita sudah memasuki pertengahan Ramadhan. Sudah 11 hari kita menjalani ibadah puasa, menahan lapar dan dahaga demi menjalankan kewajiban sebagai umat Islam. Dalam kurun waktu beberapa minggu lagi kita pun akan menyongsong Hari Raya Idul Fitri, hari dimana seluruh umat islam akan kembali suci seperti saat bayi baru lahir.

Hari Raya Idul Fitri yang insha allah bertepatan akan jatuh pada tanggal 15 Juni nanti tentu sangat dinantikan oleh seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Pasalnya hari kemenangan ini merupakan sebuah hadiah yang diberikan oleh Allah kepadanya hambanya yang telah bersusah payah menahan hawa nafsunya, menahan lapar dan haus dari pagi hingga petang, menepis rasa malas untuk melaksanakan Shalat Tarawih, melantunkan aya-ayat suci suci Alquran meskipun rasa kantuk terus menyerang, dan berusaha untuk terus bersedekah meskipun kantong sendiri juga sedang susah. Semua itu kita lakukan agar lebih dekat dengan Allah sebagai  Sang Pencipta, sebagai upaya memohon pengampunan atas dosa-dosa di masa lalu, dan juga sebagai investasi amal kita di akhirat kelak, sebab di Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini semua amalan akan dilipatgandakan pahalanya.

Momen Lebaran juga erat kaitannya dengan fenomena mudik ke kampung halaman. Mudik atau lebih dikenal dengan  Pulkam ( Pulang Kampung ) menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat Indonesia. Sebagai bangsa dengan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, tentu euforia mudik akan lebih terasa disini. Kesempatan yang hanya datang sekali setahun ini dimanfaatkan orang-orang untuk berkumpul dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya di Kampung Halaman.

Tak terkecuali aku. Sebagai seorang perantau yang jauh dari orangtua tentu aku sangat menantikan saat-saat seperti ini. Ketika lebaran tiba, seluruh sanak keluarga akan berkumpul  di satu tempat, yaitu kediaman Oppung ( kakek/nenek dalam bahasa batak). Rumah Oppung yang tadinya kosong pun mendadak berubah menjadi sangat riuh. Semua saling bercengkerama satu sama lain, Bapak-Bapak  sibuk membahas keluarganya masing-masing, Ibu-Ibu sibuk memasak makan di dapur, dan  yang anak-anak tak hentinya berlari kesana-kemari, canda dan tawa yang hadir pun menambah kehangatan suasana, tidak ketinggalan seluruh kasur yang ada di kamar tidur akan dipindahkan ke Ruang Tamu agar semuanya bisa tidur bersama. Setelah Shalat Ied, semua anak-anak akan berbondong-bondong meminta THR atau Amplop Lebaran kepada yang tua. Itu adalah momen – momen yang sangat aku tunggu kala Hari Raya tiba.

Amplop Lebaran 2018_180210_0005

 

Tapi itu dulu…..

Menurutku Lebaranku tahun ini tidak akan lagi seindah tahun-tahun sebelumnya. Perlahan tapi pasti, orang-orang yang sangat berarti bagiku telah menghadap Sang Khalik satu per satu. Diawali oleh kepergian Kakekku sekitar 13 tahun lalu, disusul meninggalnya Nenekku 10 tahun kemudian, dan yang terakhir aku pun harus menerima kenyataan bahwa Allah juga telah memanggil Ibuku 7 bulan yang lalu setelah kurang lebih setahun berjuang melawan kanker payudara yang diidapnya.

Biasanya orang yang paling sibuk dan heboh saat Puasa dan Hari Raya adalah Ibuku. Dengan penuh keikhlasan dia bangun lebih awal untuk menyiapkan hidangan sahur kami sekeluarga dan tak lupa juga membangunkan kami untuk meikmati santap sahur bersama. Sorenya pulang dari kantor ia juga harus menyiapkan menu berbuka kami meski lelah masih belum hilang dari badannya. Mendekati Lebaran, Ibuku juga semakin sibuk dengan aktifitas membuat kue dan juga membeli baju Lebaran kami satu per satu, baik itu Ayahku, Aku, dan juga Adik-adikku. Saat Takbir telah berkumandang dari penjuru mesjid, Malaikat tak bersayap ini pun masih sibuk di dapur untuk memasak Rendang dan Sop untuk hidangan kami sehabis Sholat Ied nanti.

Hidup memang penuh degan teka-teki yang tidak bisa kita prediksi. Ramadhan dan Lebaran tahun lalu aku lewati di Rumah Sakit untuk menemani Ibuku menjalani serangkaian pengobatan kankernya, mulai dari Kemoterapi hingga Radiasi dengan harapan Ibuku segera sembuh dan kami bisa berkumpul bersama lagi di Lebaran berikutnya. Tapi ternyata Allah berkehendak yang lain, Dia pun memanggil Ibuku kembali padaNya. Aku pun harus kuat dan harus mulai terbiasa melewati Ramadhan dan Lebaran tanpa seorang Ibu yang selalu berdiri di depan rumah dan menyambutku pulang dengan senyumnya yang penuh ketulusan.

Jadi Amplop Lebaran bukan lagi menjadi sesuatu yang kutunggu, tapi hangatnya dekapan seorang Ibu jadi satu-satunya yang akan selalu kurindu.

IMG_0781

Kelak, bukan lagi harta melimpah yang kau impikan, bukan lagi liburan yang kau nantikan, tapi momen kebersamaan  dan kehangatan sebuah keluarga yang pasti akan kau rindukan.

I Miss You Mak. 😦

Iklan

18 respons untuk ‘Amplop Lebaran, Masihkah Kurindukan ?

  1. Menyentuh, turut berduka bang..
    Tapi memang kebersamaan itu tidak bisa di nilai dengan seberapa banyak amplop disaku, tanpa ada amplop, jika semua berkumpul pasti sangat membahagiakan

    Suka

  2. tetap semangat bang, lebaran itu ketika ada yang hilang salah satunya memang terasa berbeda, ya tetap semangat aja, mana tau tahun depan lebarannya bareng keluarga baru, eh

    Suka

  3. Ibu itu emang pusat kehidupan. Sempat ngerasain Ramadan ibu gak di rumah aja karena opname rasanya gak enak banget.

    Semoga ibunda mendapatkan tempat terbaik, amin.

    Suka

  4. I miss my mamak too T_T

    banyak yang kurang tanpa seorang mamak. YAh saya sudah melewati 6 tahun lebaran tanpa mamak. Kangen dengan semua masakan menu dan kue lebaran. Pengen balik lagi di masa saya bantu bikin kue lebaran

    Disukai oleh 1 orang

  5. Lebaran sudah tinggal beberapa belas hari lagi ya :’

    sungguh, tidak terasa deh suwer gwgwgw.

    dan, saya sepertinya sudah tidak merasakan amplop lebaran lagi untuk 2 tahun ke belakang deh. Jadi, yaaaaaaaaa rindu, tapi yasudah wgwgw.

    Suka

  6. Assalamualaikum, Bang Harlen.
    Selamat hari raya Idul Fitri, ya. Mohon maaf lahir batin karena baru bisa kunjung balik sekarang. 🙂
    Turut berduka cita atas berpulangnya ibunda, semoga almh dikaruniakan husnul khotimah. Aamiin.

    Btw, nikmatnya dapat THR akan jauh lebih berlipat kalau bisa dibagi-bagi kepada keluarga.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s