Petualangan Sehari Mengelilingi 3 Tempat Wisata Pantai di Aceh

Petualangan Sehari Mengelilingi 3 Tempat Wisata Pantai di Aceh- Jumat, 30 Maret 2018, petualangan masih terus berlanjut. Setelah puas keliling Takengon, Aku dan Rama menuju Banda Aceh. Kami pun harus menempuh waktu 8 jam lagi menggunakan sepeda motor untuk sampai kesana. Siang itu meski cuaca di Takengon sangat cerah tapi hawanya begitu sejuk sehingga membuatku sedikit enggan meninggalkan kota ini. Namun apa mau dikata, rasa cintaku pada Tanah Gayo ini dikalahkan oleh rasa penasaranku pada Ibukota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam tersebut.

Tiga jam berlalu, sekitar pukul 6 sore sampailah kami di Simpang Matang Glumpang, Kabupaten Bireuen. Aku dan Rama istirahat sejenak di kosnya sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah puas beristirahat dan meregangkan beberapa otot yang kaku akibat kelamaan duduk diatas motor kami pun beranjak ke Banda Aceh. Sebelum itu aku tak melewatkan mencicipi kuliner khas Aceh, yaitu sate matang. Aku baru tahu kalau sate matang itu bukan asli dari Banda Aceh tapi berasal dari daerah Matang ini. Makanya dinamakan sate matang, padahal sebelumnya aku pikir kalau nama “matang” itu diberikan karena satenya memang matang. Hhhehe

Aku dan Rama berboncengan menembus malam yang gelap. Di awal perjalanan kami disambut oleh rintik-rintik hujan, kami pun berhenti sebentar untuk memakai mantel, dan sialnya  ternyata mantelnya cuma ada satu, hingga akhirnya untuk menghemat waktu kami harus tetap melanjutkan perjalanan dan terpaksa hanya Rama yang memakai pakaian pelindung tersebut karena kebetulan dia yang mengemudikan motor dan aku harus rela duduk manis di belakang hanya mengenakan sebuah sweater tipis dengan harapan hujan tidak semakin deras dan segera berhenti. Syukurlah sepertinya Allah mendengar doaku tersebut, tak lama berselang rintik hujan tak ada lagi, yang ada hanya sebuah kenangan yang membekas di hati. Bah jadi galau pulak. Hhhehe

Malam semakin larut, rasa kantuk pun semakin tak terbendung. Jarum jam menunjukkan angka 12 malam, Aku dan Rama tiba di Kota Sigli dan akhirnya tidur di sebuah POM Bensin untuk mengirit biaya. Hhehe

Tadinya aku berpikir hanya kami berdua yang melepas rasa kantuk di mushola itu, ternyata cukup banyak juga yang memilih tidur disini, setelah kuperhatikan mayoritas adalah musafir, supir truk, dan penjaga Warung Makanan di SPBU tersebut. Malam pun berlalu dengan diiringi harapanku agar besok pagi tenaga kembali terisi, badan yang bugar, dan cuaca yang cerah.

IMG_1060

IMG_1061

“ Bangun bang, udah Subuh !!!!!, “ teriak seorang pria dengan suara yang menggelegar di seluruh ruangan mushola, seketika memecah keheningan dan membuyarkan mimpi kami semua. Dengan setengah sadar aku melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul 5 pagi, seluruh daya dan upaya pun kukerahkan demi melawan kantuk yang masih belum hilang dan segera mengambil wudhu untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Wajar saja bila ada Hadis yang menjelaskan bahwa manusia paling kaya yang akan memiliki dunia dan seisinya adalah dia yang bersusah payah bangun pagi buta untuk Sholat Subuh berjamaah di Masjid. Salut untuk siapapun yang sudah mampu melawan kantuknya dan meringankan langkahnya untuk Subuh berjamaah di Masjid. 🙂

Sehabis sholat, Aku dan Rama beranjak dar Sigli menuju Banda Aceh. Alhamdulillah pagi itu cuaca cukup cerah tidak seperti hari-hari sebelumnya, hamparan sawah yang hijau dan pepohan yang rindang seolah menyapa dan menyambut dengan riang kedatangan kami. Dan seperti biasa jalan lintas menuju Aceh cukup sepi, padahal saat itu adalah akhir pekan. Apa mungkin warga Aceh lebih menyukai liburan di dalam kota daripada bepergian ke luar kota ya ?

Sekitar pukul 8 pagi tibalah kami di Bumi Serambi Mekkah kota Banda Aceh. Berbeda dengan di Medan yang penuh sesak, disini lalu lintanya cukup lengang, tidak ada suara-suara klakson yang sering terdengar saat kemacetan.  Kami pun segera mencari hotel untuk melepas lelah dan mandi sepuas-puasnya karena badan sudah sangat lengket oleh keringat dan debu-debu jalanan, aromanya pun entah udah cemana, nano-nano lah pokoknya, Hhehe

IMG_1069

IMG_1068.JPG

IMG_1346.JPG

IMG_1348.JPG

Usai mandi badan pun kembali segar dan wajah kembali cerah. Aku pun menyusun serangkain destinasi yang akan dikunjungi hari itu, lokasi pertama yang kami kunjungi adalah Pantai Pasir Putih. Kalau aku lihat foto-fotonya di internet, Tempat Wisata yang terletak di Desa Lamreh, Kecamatan Mesjid Raya, Kabupaten Aceh Besar ini memang sangat bagus, tapi terkadang foto bisa saja menipu, bisa saja fotonya di edit, air yang tadinya coklat bisa saja berubah jadi biru, jerawat pun bisa hilang  berkat kecanggihan aplikasi Photo Editing yang sudah banyak tersedia di App Store maupun Google Play. Hhhehe

Setelah menempuh jarak kurang lebih 40 km dari kota Banda Aceh, sampailah kami di Pantai Pasir Putih. Ternyata foto-foto yang lihat di internet sebelumnya tidak berbohong, karena kenyataannya objek wisata yang bersebelahan dengan Bukit Lamreh ini memiliki segudang pesona. Karakteristik pantainya yang putih dan halus dan air lautnya yang biru akan semakin bercahaya diterpa sinar matahari, kemudian yang membuatnya berbeda dengan pantai-pantai lain yang ada di Aceh adalah pemandangan pepohonan yang berjejer di bibir pantai yang diselingi akar-akar bakau yang tumbuh menjulang ke permukaan. Disini juga sudah dibangun banyak pondok untuk para wisatawan yang ingin bersantai dan menyantap menu makanan yang ada sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan suara deburan ombak yang menentramkan hati. Tidak heran kalau aku saat itu melihat ada sepasang calon pengantin yang melakukan sesi pemotretan foto pra wedding disini, sebab spot-spot untuk berswafoto ini sangat fotogenik.

IMG_1083.JPG

IMG_1084.JPG

IMG_1101

IMG_1103.JPG

IMG_1126

IMG_1110.JPG

IMG_1114.JPG

IMG_1131.JPG

IMG_1142.JPG

IMG_1214.JPG

Kuliner khas dar Pantai Pasir Putih ini adalah ikan bakarnya, tapi berhubung uang pas-pasan kami pun hanya memesan Indomie kuah pake nasi dan minumnya tidak lain dan tidak bukan adalah minuman sejuta umat, yaitu teh manis dingin. Jauh-jauh dari Medan makannya indomie lagi, namanya juga anak kos ya kan. Hhehe

Karna terlalu asyik menikmati suasana yang begitu menenangkan, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Langit yang tadinya cerah perlahan mulai mendung, Aku dan Rama segera beralih menuju destinasi selanjutnya. Tidak lupa kami pun membayar makanan dan minuman tadi, totalnya semua adalah Rp.50.000, syukurlah tadi cuma pesan indomi ama teh manis, bayangkan kalau tadi pesannya ikan bakar, tekor bandarlah. Hhehe

IMG_1122.JPG

Pantai Pasir Putih selesai. Selanjutnya kami menuju objek wisata Bukit Lamreh yang letaknya tidak jauh dari Pantai Pasir Putih, mungkin hanya sekitar 1 km saja. Akses jalannya lumayan sulit karena banyak batuan yang terjal sehingga cukup sulit bagi motor matik kami untuk melewatinya. Berbeda dengan Pantai Pasir Putih, di kawasan wisata yang masih berada di Kecamatan Masjid Raya ini selain membayar tiket masuk seharga Rp.10.000/motor, kami juga harus membayar parkir seharga Rp.10.000/motor juga, hal ini cukup membuatku kesal. Tapi syukurlah rasa kesalku itu cepat sirna setelah aku disuguhi kecantikan alam begitu mempesona. Dari atas perbukitan yang tersusun rapi oleh batuan karst ini kami bisa melihat dengan leluasa lautan yang membentang luas, hamparan rumput hijau yang menyelimuti, dan tidak lupa semilir angin yang membelai dengan lembutnya seolah mengajak kami untuk betah berlama-lama.

IMG_1262.JPG

IMG_1302.JPG

IMG_1284.JPG

IMG_1298.JPG

IMG_1303

IMG_1267.JPG

IMG_1319

IMG_1333.JPG

IMG_1332

IMG_1329

IMG_1344

IMG_1345.JPG

Disini terdapat sebuah pondok yang menjual air mineral, minuman ringan, dan beberapa cemilan. Setelah aku perhatikan ternyata hanya segelintir wisatawan saja yang datang berkunjung ke Bukit Lamreh ini, hal ini cukup mengejutkannku mengingat dengan segala keindahan yang dimilikinya harusnya mampu memikat hati banyak orang, dan aku pikir mungkin orang-orang malas datang karena memang kondisi jalannya yang masih belum layak. Jadi aku sangat menaruh harapan kepada pemerintah setempat agar bisa memberikan perhatian kepada objek wisata yang satu ini. Jangan sampai potensi wisata yang menurutku sangat besar ini disia-siakan begitu saja.

Hari semakin sore, jarum jam sudah berada di angka 4. Aku dan Rama beralih ke destinasi terakhir kami hari itu, yaitu Pantai Lampuuk. Lokasinya sekitar 15 km dari barat kota Banda Aceh, jadi karena kami beranjak dari Bukit Lamreh, maka kami pun harus menempuh jarak 55 km lagi agar sampai ke Pantai Lampuuk. Harga tiket masuk ke objek wisata ini juga cukup murah, yaitu Rp.5000/orang. Pantai yang berada di Kecamatan Lhoknga ini merupakan saksi bisu kedahsyatan tsunami yang melanda Aceh 2004 silam, gelombang besar telah banyak memakan korban, merusak infrastruktur dan pepohonan pinus yang dulunya tumbuh rindang disini. Sehingga pasca Tsunami banyak orang yang trauma untuk datang berkunjung kesini.

Namun setelah banyaknya pembenahan disana-sini, akses jalan yang dipermudah, Pantai Lampuuk  sepertinya kembali menjadi primadona bagi para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Hal ini dibuktikan dengan ramainya pengunjung yang aku lihat sedang menikmati liburannya sore itu, ada yang datang dengan keluarganya, dengan pasangannya, atau dengan teman-temannya. Beberapa ada yang bermain Banana Boat, berjalan-jalan, ada juga yang hanya duduk santai dipinggir pantai atau pondok sambil makan atau minum. Tahun 2015 yang lalu pertama kalinya aku bertandang ke Tanah Rencong, saat itu aku langsung terpesona oleh keanggunan dan keelokan dari sinar yang terpancar dari matahari yang akan tenggelam di pantai yang memiliki omabak yang bersahabat bagi para peselancar ini. Hal ini yang membuat aku rindu dan ingin kembali menyaksikan momen luar biasa tersebut. Sayangnya, alam tampaknya belum berpihak padaku, langit tampaknya cukup mendung sehingga menutupi cahaya senja yang ingin berhamburan. Aku pun hanya bisa pasrah dan tetap menikmati momen pergantian siangmenuju malam tersebut.

IMG_1356.JPG

IMG_1366.JPG

IMG_1379.JPG

IMG_1369.JPG

IMG_1365.JPG

IMG_1387.JPG

IMG_1390.JPG

IMG_1404.JPG

Alam memang penuh dengan teka teki, cuaca juga tidak bisa dipredikasi. Namanya juga jalan-jalan, kadang penuh dengan kejadian yang mengejutkan. Hhehe

Maghrib pun tiba. Kami pun lekas kembali ke hotel untuk istirahat setelah berkelana seharian.

Baca juga : Jelajah Takengon, Negeri diatas Awan di Kabupaten Aceh tengah

Nb : Semua foto menggunakan kamera canon eos m100.

Iklan

12 respons untuk ‘Petualangan Sehari Mengelilingi 3 Tempat Wisata Pantai di Aceh

  1. Aku rindu pingin pulang kampung ke Aceh. Barangkali udah belasan tahun aku ngga nginjak tanahnya. Rindu ke Sigli, kampung halaman almarhum Papa. Padahal dekat aja ya, kan. Tapi entah kenapa ngga jadi-jadi mau ke sana☺. Lah… malah curhat😂.

    Suka

  2. duhh, kok jadi kepengen ke sana ya, tapi sayangnya masih belum kesampean main ke sana, kalau ke sana itu apa aja sih bang yang harus di siapkan, terus kemarin itu bawa uang berapa sih ke sana, nah kalau untuk tipsnya ada engga kalau untuk main ke sana, ya tipsnya misalnya siapkan antimo banyak banyak biar ga muntah, naik kereta aja janjalan ke sana biar lebih seru, apa aja sih bang? hehehe

    Suka

    1. Panjang kali kali pertanyaanmu riff 😂

      Okelah biar kujawab..
      Total pengeluaran kemaren kira2 abis 800 ribu riff.. mahal di penginapan sama ongkos bus aceh ke medan..

      Abang sarankan biar lebih seru dan hemat naik kereta aja.. lebih puas eksplorenya.. asal badan sama kereta tahan banting aja.. 😂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s